Astrinovia.com

BAB 1 Europe, Here I Come

Sebelumnya: Persiapan menuju benua Biru

Di Perancis temanku bernama Andre Beau. Di belgia aku berteman dengan si manis Lien Gobert. Di Inggris ada si eksentrik Sean Parsons (tepatnya di tinggal di London-seorang musisi), dan di Rusia ada Dmitry latyshev (tepatnya di bagian Siberia) seorang teknisi perusahaan satelit terbesar disana. Untungnya mereka semua sanggup menemaniku berjalan-jalan dan senang sekali dengan kedatanganku. Aku terus berdoa semoga semua rencanaku terwujud dan berjalan dengan mulus.

Kukeluarkan list dimana semua daftar barang yang akan kubawa tercatat dengan rapi dan detail dalam tas kecil khusus. Dokumen yang berisi keterangan identitas diri alias paspor, Ipod untuk mengusir suasana jenuh dalam perjalanan, handphone yang berisikan nomor-nomor penting teman-teman di berbagai tempat –penting sekali-, netbook, kamera – jangan bepergian tanpa kamera kalau tak ingin menyesal-, daftar oleh-oleh yang sepertinya tidak begitu penting karena aku tak tahu apakah akan mencari semua pesanan itu atau tidak. “I’ll see about that,” begitu kataku pada seorang teman.

Kulihat semua barang yang kubawa. Cek dan ricek lagi biar aman. Tidak terlalu banyak ternyata, hanya 1 koper ukuran besar, 1 backpack, dan 1 tas selempak berisikan dokumen penting. Sebagai backpacker tentunya harus hemat di berbagai sisi. Namun, siapa nyana, bepergian dengan cara seperti ini lebih menyenangkan dan lekat di hati. Tak ada yang bias menukar pengalaman yang telah di dapat dengan apapun. Ada yang bilang, menjadi seorang backpacker adalah mengenai keberanian. Seberapa jauh kita bias menantang keberanian diri untuk bertualang ke tempat asing dengan dana minim.

Jadwal penerbangan yang kuambil jam 18.30 dengan menggunakan pesawat KLM 838 B. Dan aku harus bangun pagi karena rumahku di Bandung. Perjalanan ke bandara Soekarno hatta membutuhkan waktu setidaknya 3 jam tanpa macet. Semua pasti tahu betapa semrawutnya lalu lintas Jakarta setiap hari.

Kulangkahkan kakiku lagi dengan ringan tanpa beban. Saat itu yang kuteriakkan dalam hati adalah : “EUROPE, I’M COMIIIIINGGGG….!!!!!!!”

 

————————-

 

“ Mau kemana, mbak?” tanya seorang wanita disebelahku, saat kami berdua sedang menunggu bersamaan di lobi keberangkatan bandara Soekarno Hata.

“ Ke Spanyol bu..”

“Oh..wow..travelling?”

“Iya bu..hehe..”

Sebenarnya aku tahu si wanita tadi hanya berbasa basi demi mencairkan suasana. Tapi kami berdua menjadi saling tertarik untuk melanjutkan pembicaraan dan membuahkan perbincangan yang lumayan seru. Wanita itu akan ke Belanda, menengok anaknya yang sedang sekolah disana. Kami berbincang sekitar 20 menit sampai pengumuman dari pengeras suara memanggil semua penumpang yang akan boarding di pesawat milik sebuah perusahaan penerbangan Belanda yang terpercaya.

“ Bu, saya duluan ya..” aku mencoba berbasa basi.

“ Oh..udah dipanggil ya, mbak? hati-hati ya..selamat berlibur..” balas si wanita itu.

“ Iya bu, terima kasih, salam buat anaknya ya bu..” kataku.

Dan begitulah. Aku pun segera memasuki lorong menuju pesawat penerbangan menggunakan KLM yang akan mengantarku ke Schipol, Amsterdam,,,lalu Barcelona!

“ …Transit for an hour and a half at Changi Airport…” sayup sayup kudengar orang-orang berbincang begitu.

Ternyata transit dulu di changi selama sejam sebelum berangkat dan transit lagi di bandara Schipol Amsterdam.

“Akan menjadi perjalanan yang sangat panjang..” pikirku.

Saatnya keluar dari kabin dan aku sedikit ragu apakah tas yang kubawa ke kabin harus kubawa keluar dulu atau tidak. Pikiran ini terlintas di kepalaku meski sedikit memalukan…haha. Tapi, lebih baik bertanya daripada sesat di jalan, begitu kan?

Aku turun sebentar dan melihat-lihat suasana bandara Changi. Sebenarnya setiap bandara pasti sama saja. Rest room, conference room, café, diner spot dan lain-lain. Tapi kali ini kebetulan aku transit di bandara terbaik di dunia. Semua penduduk Singapura sangat bangga dengan hal ini tentunya berkaitan juga dengan kebiasaan tepat waktu yg luar biasa berbeda dengan kebiasaan kita di negeri sendiri. Bandara ini bahkan punya kolam renang untuk mereka yang memiliki waktu transit lebih dari 5 jam namun ingin menyegarkan diri.

Ada 3 terminal utama di bandara ini tapi terminal 3 adalah terminal yang paling baik diantara yang terbaik. Terminal 3 dapat dibedakan dengan dekorasi ruang yang seluruhnya dibatasi oleh kaca sehingga bias melihat pemandangan di luar dengan nyaman. Belum lagi taman-tamannya yang luar biasa seperti taman kupu-kupu, taman kaktus dan taman bamboo. Tapi aku lebih suka nonton film bioskop yang gratis tersedia di semua terminal di Changi ini. Wow, memang benar-benar hebat negara kecil ini. Aku berjalan menyusuri deretan gerai di terminal ini sambil melihat-lihat siap tahu ada yang menarik dan unik. Lumayan untuk sekedar menghabiskan waktu transit. Aku sampai di sebuah bar bernama Harry’s yang berdekorasi unik tapi ada satu ruangan di sebelahnya yang lebih menarik perhatianku. Tempat apa itu ya? Aku penasaran dengan ruangan yang cukup mungil tetapi pekat oleh kabut putih itu. Sepertinya penuh dengan pengunjung dan tampak sesak oleh kepekatan kabut putih itu. Pantas saja, itu ruangan khusus merokok! Waduh, apa bisa bernafas semua orang yang berkumpul disana? Wah, wah, keren juga. Ternyata tidak hanya di kereta orang-orang mau berdesakan, di ruang kecil seperti itu juga mereka rela asalkan bisa mengepulkan asap rokoknya. Lucu…. Tapiii…. ruangan yang kucari mana ya? Di bandara, beberapa fasilitas utama pasti tersedia tapi sulit sekali menemukan smoking area di setiap terminalnya. Aku terus mencari dimana smoking room itu berada.

“ Excuse me, can you show me where the smoking room is?” tanyaku pada seorang information staff.

“ Oh..over there miss, next to Harry’s Bar..” Dia menunjuk sebuah ruangan yang lumayan besar dan  tampak penuh. Ternyata banyak juga orang yang merokok di ruangan ini. Menurut hukum yang berlaku disini, kita dilarang membawa rokok dari luar tetapi diperbolehkan membeli rokok di toko duty free yang tentunya akan dibawa keluar oleh orang yang sedang transit. Kalau ketahuan maka tak ayal denda akan menghampiri, maka dari itu sembunyikan baik-baik rokok anda, jika tidak maka uang melayang. Semakin lama ruang itu semakin pekat oleh kepulan asap yang keluar dari mulut para penikmat rokok.

Saking banyaknya asap yang terkumpul di diatas kepala mereka, kaca ruangan itu menjadi buram seperti terhalang oleh salju. Orang-orang yang sudah sakau merokok itu saling tak mau kalah. Aku teringat bapakku yang perokok berat. “Aku mau berhenti kok, tapi gimana ya, rasanya sulit banget deh!” Rasanya sudah beku bibir ini menahan keinginan itu akibat suhu pesawat yang lumayan dingin dan membuat mulut berasa asam. “Ah, itu hanya alasan saja,” gumam hatiku. Sepertinya semua orang yang ada di ruang khusus merokok ini punya pikiran yang sama di kepalanya,”Kapan ya aku berhenti merokok?”

Aku tidak lama menghabiskan waktu di ruangan khusus itu. Waktu menunjukkan aku masih punya waktu sekitar setengah jam lagi. Saatnya mencari sesuatu untuk menghangatkan badan. Aku perlu kopi panas. Waktu setengah jam tak terasa berlalu cepat di dalam Spinelli Coffee Shop. Daripada berkeliaran dan nanti terlambat, lebih baik segera boarding dan masuk kedalam kabin, dimana aku akan menghabiskan sekitar 16 jam perjalanan di atas udara menuju bandara Schipol Amsterdam.

———————————-

Ini pertama kalinya aku mendarat di bandara internasional di Eropa. Schipol International Airport. Tetapi lima tahun berlalu tentunya menunjukkan banyak perubahan. Keterangan yang diberitahu oleh mereka yang pernah menginjakkan kaki disini tentu sudah banyak berbeda. Tapi tetap saja, melihat begitu bersih dan besarnya bandara ini, aku terpesona dan berdecak kagum sendiri.

Yup, transit lagi satu jam. Tapi tak banyak orang yang lalu lalang disini. Cuaca diluar terlihat dingin dan sedikit mendung. Suasana tampak lengang dan udara dingin semakin terasa disini. Tak banyak hal aneh yang bias ditemukan saat berkeliling di bandara ini, karena aku tiba di saat waktu menunjukkan pukul 5 pagi. Masih subuh dan semua orang yang bias kuhubungi juga tentu sedang terlelap tidur. Apalagi udara saat itu sedang dingin-dinginnya. Sekitar -4 derajat celcius. Untuk orang Indonesia seperti aku, suhu kisaran itu sudah membuat badan menggigil. Sebenarnya ada seorang saudaraku yang tinggal di Amsterdam, tapi karena jam kedatangannya subuh, jadi aku tak bias ketemu mereka sekarang.

Aku tak begitu suka udara dingin, karena selalu membuatku bolak balik ke restroom dan sakit perut. Kali ini juga begitu. Udara dingin, suasana sepi dan dinihari merupakan kombinasi yang tepat kalau badan memintaku pergi ke kamar mandi, lagi. Kali ini kuanggap aku sial. Kenapa? Setelah membersihkan badan dan akan menggunakan flush, tak ada tombol yang bias kutekan dimanapun. Bagaimana ini? Kupikir, biar sajalah toh tak banyak orang disini. Tidak akan ada yang tahu kalau aku yang sudah menggunakan kamar mandi ini. Kubuka pintu kamar mandi dan here we go….byurrr, ternyata flush-nya ada saat kita buka pintu untuk keluar dari kamar mandi. Keren !

Ada sesuatu yang sangat menarik perhatian mataku di sebuah sudut. Satu stan yang menawarkan pijat dan relaksasi bagi yang kelelahan karena penerbangan panjang. Kulihat ke bawah tubuh, sepertinya kakiku membesar, apakah karena sepanjang perjalanan aku duduk terus makanya jadi bengkak begitu. Kayaknya sepatupun menjadi sedikit sempit. Ya, lebih baik aku masuk stan pijat dulu sementara untuk meringankan penat selama perjalanan. Dua euro, cukup mahal, tapi lumayanlah untuk menghilangkan lelah kaki ini. Ya, pilihan yang tepat.

Kulihat di depanku, tiga wanita berwajah latin sedang asyik bercakap-cakap. Logat mereka kadang meledak-ledak, nyaring dan tampak cerewet semuanya. Beginilah kalau orang spanyol ngobrol, gumamku. Sekarang aku mengerti kenapa Marta –temanku- bilang ada perbedaan antara orang Catalan dan Spanyol. Orang spanyol biasanya lebih ekspresif, bicaranya meledak-ledak, suaranya nyaring dan kalau bicara selalu berisik. Tapi orang Catalan lebih kalem, tenang dan menyenangkan untuk diajak bicara.

Bandara ini memang terbilang besar sekali, ‘huge’ kalau orang bule bilang. Kita harus berjalan jauh untuk mencapai gerbang keberangkatan dan antrian di setiap pengecekkan paspor cukup panjang. Lumayan, membuat lelah meski ada bantuan conveyor belt ( ban berjalan ) untuk mempercepat perjalanan di bandara. Bagi yang bepergian sendiri seperti aku, jangan takut tersesat di bandara ini. Kenapa? Karena tanda-tanda dan penunjuk arah ditempatkan di berbagai sudut. Jadi kita tak akan tersesat, kecuali kalau tak bisa baca tulisan dalam bahasa inggris.

Tapi jangan mau beli barang untuk oleh-oleh disini meski semua pernak pernik tampak indah dan bagus, karena harganya sangat mahal. Jangankan aku yang hanya traveling dengan low budget, mereka yang punya dana berlebih juga malas belanja disini. Terlalu mahal, katanya. Sama halnya dengan makanan yang ditawarkan disini, harganya tak kalah mahal. Ya, yang pasti aku harus berhemat karena perjalanan masih panjang.

Setelah merasa sedikit relaks aku kembali ke pesawat. Tiba-tiba aku teringat donat yang tadi kubawa dari bandara Changi kutinggal di atas kursi. Perutku memang sedikit bereaksi karena cuaca dingin. “Mungkin satu donat cukup untuk mengganjal perut sampai tiba di Barcelona,” begitu pikirku. Tapi sudahlah pastinya donat itu juga sudah lenyap. Perjalanan dari Schipol ke Barcelona Airport hanya satu jam. Pesawat KLM 1665 B sudah tampak di landasan, siap untuk berangkat pukul 07.15. Untungnya, ternyata di pesawat aku mendapatkan breakfast berupa roti dan jus jeruk. Lumayan cukup untuk sarapan pagi saat itu. Pesawat yang kutumpangi lebih kecil dari yang digunakan saat melakukan perjalanan dari Jakarta ke Amsterdam, makanya guncangan dan turbulensi pesawat lebih terasa oleh badanku. Lumayan, sedikit menaikkan adrenalin tubuh dan bikin jantung deg-degan..

Dan pendaratan selanjutnya adalah : Barcelona!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *