Astrinovia.com

Finally …. Menuju Padang Pasir #Bromo

Tulisan ini saya buat tengah malam, sekarang sudah pukul 12.14 WIB jadi sebenarnya sudah harus tidur tapi tangan ini masih ingin mengetikkan kalimat-kalimat yang bisa dibagi dengan siapapun yang penasaran dengan Gunung Bromo. Satu kata untuk Bromo …. magnificent!

Here we go :

Rencana perjalanan menuju Bromo sebenarnya sudah ada sejak tahun lalu namun baru minggu kemarin akhirnya terlaksana. Setiap perjalanan, bagi setiap orang, selalu menyisakan kenangan yang berbeda. setiap langkah, semua yang ditemui di depan mata sepanjang perjalanan, membuahkan rasa yang berbeda-beda.

Meskipun sudah beberapa kali mengorek informasi dari banyak orang yang sudah pernah pergi ke Bromo, perjalanan ini rasanya seperti menutup mata. Maksudnya, tidak ada itinerary khusus yang sudah disiapkan. Setelah mencari informasi mengenai Bromo ini ternyata banyak jalan menuju ke gunung berapi yang masih aktif itu. Karena ada beberapa jalan masuk maka setiap orang punya cerita berbeda.

Bromo bisa dimasuki dari gerbang Pasuruan atau dari Probolinggo. Bila ingin melihat indahnya sunrise maka ada baiknya kita memilih jalan ke Bromo masuk dari kota Pasuruan,. Bila ingin langsung mendapat akses ke padang pasir dan savana maka gerbang masuk Probolinggo adalah pilihannya. Melihat biaya yang diperlukan ternyata beragam maka saya memutuskan untuk berangkat menggunakan sepeda motor. Mengajak satu teman untuk menemani karena saya tidak bisa menjalankan sepeda motor, akhirnya kami berdua berangkat dari Surabaya melewati Sidoarjo dan Pasuruan.

12 jam menggunakan kereta dari bandung ke Surabaya cukup melelahkan ternyata. Kaki rasanya pegal karena selama itu hanya bisa duduk dan sedikit jalan-jalan di kereta. Berangkat menggunakan kereta eksekutif Turangga hari jumat 01 November 2013 pukul 20.00 WIB, saya sampai di stasiun Gubeng Surabaya Sabtu 02 November 2013 pukul 09.00 WIB. Kereta tiba lebih lambat satu jam dari yang sudah dijadwalkan. Oh iya, Kenapa harus memakai kereta eksekutif bukan ekonomi? Pertimbangannya adalah waktu libur yang terbatas membuat saya harus menjaga stamina untuk bisa langsung masuk kan tor dan bekerja setibanya di Bandung nanti. Meskipun memakai kereta kelas eksekutif tapi lelahnya tetap terasa sama.

Setibanya di Gubeng, teman saya sudah menjemput dan menyiapkan perlengkapan bermotor seperti helm, slayer dan jas hujan. Tanpa menunggu lama, kami berangkat ke Bromo setelah mengisi penuh bahan bakar. Sebenarnya kaki masih pegal akibat perjalanan 12 jam dari Bandung tapi saya tak ingin membuang waktu. Saya memutuskan untuk bermalam di wilayah Bromo saja hari Sabtu itu. Perjalanan menggunakan sepeda motor ini ternyata memberikan pengalaman yang luar biasa. Lebih menantang dibandingkan memakai mobil. Kami meluncur melewati daerah Sidoarjo termasuk Porong, dimana wilayah bencana lumpur Lapindo telah menjadi kawasan wisata bagi sebagian masyarakat.

Kawah Bromo Yang membuat Penasaran
Kawah Bromo Yang membuat Penasaran

Bau menyengat belerang kuat melewati penciuman kami. Disana kami melihat benteng pertahanan yang terbuat dari tumpukan tanah telah semakin meninggi. Ternyata lumpur yang keluar dari sana belum juga berhenti. Memasuki kota Pasuruan, jalan yang dilalui terasa panas menyengat ke tubuh. Pepohonan hijau sangat kurang sekali disana membuat hawa bertambah panas dan berdebu. Butiran pasir rasanya sudah menempel tebal di kulit dahi saking tebalnya debu-debu yang beterbangan di jalan raya. Perjalanan terus berlanjut setelah sempat beristirahat sebentar di pompa bensin di wilayah Pasuruan. Waktu menunjukkan pukul 12.00 WIB dan teriknya matahari saat itu sangat juara.

Yakin, hapal rute menuju Bromo dari Pasuruan? Ternyata … kami tersesat!

Untuk yang ingin tahu biaya yang dibutuhkan selama di Bromo, akan saya tuliskan dalam postingan selanjutnya ya. stay tune here.

to be continued

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *