Astrinovia.com

Llambilles, Kota kecil Nan Hening

Kota kecil ini masih sepi. Perumahan baru banyak bermunculan. Saya tinggal di satu komplek yang masih belum selesai pembangunannya jadi tidak banyak orang yang bisa ditemui disana. Melihat keadaan sekeliling, terkejut, begitu berbeda dengan suasana kampung tempat tinggal saya di Bandung. Sepi dan semua pintu juga jendela tertutup rapat seakan tak ingin menerima tamu siapapun. Cuaca yang dingin dan sedikit bersalju membuat penghuni malas menunjukkan tampangnya di luar pintu rumahnya. Konstruksi bangunan yang berbeda menampakkan susunan bata silang membuat tembok terlihat begitu kokoh. Di luar jendela selalu dipasang semacam rolling door yang bisa melindungi penghuni dari cuaca panas atau dingin yang ekstrim.

tipe rumah khas yang ada di Llambilles, Girona

Sebagian besar rumah menggunakan cat warna putih atau warna asli merah batubata. Katanya untuk memantulkan cahaya matahari ketika musim panas yang bertemperatur tinggi datang nanti. Susunan bata dibuat dobel dan silang serta diselipkan busa pelindung untuk membuat bagian dalam rumah tetap hangat ketika musim dingin tiba. Bagi saya, yang datang dari negara tropis, semua konstruksi bangunan yang kokoh dan kuat itu tidak memberi pengaruh sama sekali. Saya tetap kedingininan meskipun makan malam di meja sambil memunggungi perapian panas. Perut rasanya berkedut-kedut, jemari membeku dan kaki terasa kaku meskipun terbalut tiga rangkap kaos kaki tebal. Sedikit memalukan tapi daripada kedinginan tak bisa beraktifitas ya lebih baik seperti itu.

Llambilles dilingkupi oleh ladang-ladang gandum, buah pir dan anggur. Sepanjang perjalanan dari bandara Barcelona menuju rumah tinggal dipenuhi oleh pemandangan ladang yang luas dan teratur. Bis umum yang lewat setiap 15 menit sekali bergantian melewati mobil yang kukendarai. Cukup aneh menikmati perjalanan ini. Biasanya saya duduk di sebelah kiri mobil untuk menikmati pemandangan luar tanpa dihalangi oleh laju kendaraan lain di sebelah kanan. Kali ini saya mengambil posisi salah karena berada di sebelah kiri berarti tidak bisa maksimal menikmati pemandangan di tepi jalan. Kendaraan melaju di sisi kanan berbeda dengan posisi kendaraan di Indonesia. Tapi gak apa, saya masih bisa menikmati perjalanan dengan menyenangkan.

cuaca ketika pertama kali tiba di Llambilles, Girona, Spanyol

Perbedaan lainnya disini dengan di Indonesia adalah jarang terdengarnya suara keras klakson yang berusaha mendorong mobil di depan untuk cepat melaju, tak ada yang menyerobot lampu merah, kendaraan mentaati semua rambu jalan dengan disiplin dan tak banyak terlihat pemuda yang nongkrong di pinggir jalan tanpa kegiatan pasti. Tapi ada satu pemandangan yang cukup lucu. Seorang pria sedikit kumal membawa handphone jadul berukuran besar tampak bicara keras seolah sedang meneriakkan sesuatu pada ‘dia’ di seberang sana yang sedang diajaknya bicara. Kendaraan yang kunaiki ketika itu sedang berhenti di lampu merah jadi perhatian saya focus pada pria paruh baya itu. Rambutnya kusut, kumis dan janggutnya tak tersentuh mata silet pencukur janggut, pakaiannya kusam dan dia terakhir kulihat duduk di bangku taman sambil tak lepas memandangi setiap orang yang lewat. “Jangan heran lihat dia ya …. Dia memang rada gila!” tiba-tiba Xevi bicara seperti itu. Oohhh … ternyata ada juga orang gila yang berkeliaran di kota kecil di benua biru ini, saya kira sebaliknya … hehehee.

Malam pertama tiba. Badan masih terasa remuk setelah menempuh perjalanan jauh dan lama. Perut ini rasanya lapar, jadi ketika Maria Angels –istri Xevi- memanggil untuk turun ke bawah dan makan malam bersama, tak kutunda lagi. Terbayang di benakku nasi hangat plus ayam goreng, sambel serta lalapan dan paru goreng seperti yang biasa kubeli di rumah makan Ampera. Hmmm … apa yang ada di meja? 4 buah pasta besar berisi bayam dan ayam cincang disiram kuah cream dan keju dalam satu pinggan kecil untuk porsi satu orang sudah menungguku disana. Aduhhh … makanan apa ini? betul saja, pertama kali mencicipi masakan seperti ini lidahku langsung demo. Rasanya aneh, tidak gurih dan hambar meskipun terasa sedikit rasa khas ayam cincang. tanpa lama-lama, satu porsi Canellones itu habis tak bersisa meskipun rasanya tak nendang di perut.

canelones yang rasanya aneh kemudian menjadi enak setelah beberapa kali makan :p

Makan malam ditutup dengan susu coklat dan setelah ngobrol-ngobrol sebentar, saya dipersilakan untuk istirahat kembali di kamar atas. Fiuhhh … makan malam pertama yang sungguh tak membuat saya kenyang. Benak pun menerawang jauh ke Bandung.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *