Astrinovia.com

La Masia: Dilema Dari Dalam Akademi Sepakbola Muda Terbaik Dunia

 

La Masia.

Masih ingatkah kamu ketika tiga pemain terbaik bernama Lionel Messi, Andres Iniesta dan Xavi Hernandez berada dalam daftar pemain terbaik Ballon d’Or 2012? Ketiga pemain ini adalah lulusan dari La Masia, sebuah akademi muda yang dikonfirmasi sebagai akademi sepakbola terbaik di dunia.

Secara global, reputasi ini masih bertahan.

Namun kini, siapapun bisa melihat sepertinya ada hal yang salah sedang terjadi di La Masia. Tim-tim muda kini tidak lagi tampak mengesankan seperti sebelumnya dan tidak banyak pemain berkualitas yang muncul dari daftar pemain terbaik di akademi saat ini. Tanya kenapa?

 

 

Bagi yang belum tahu …

Akademi La Masia FC Barcelona merupakan satu dari banyak sistem pendidikan sepakbola paling efisien selama 25 tahun terakhir. Johan Cruyff merekonstruksi sistem di tahun 1988 dimana pelatihan dan panduan pendidikan diubah sepenuhnya.

La Masia (secara harfiah berarti pabrik) adalah akademi muda Barcelona yang ditasbihkan sebagai yang terbaik di dunia dalam sepuluh tahun terakhir berkat talenta-talenta kelas dunia yang dihasilkan dari sana. Pemain seperti Xavi, Andres Iniesta, Lionel Messi, Gerard Pique, Carles Puyol, Cesc Fabregas, Sergio Busquets, dan Pedro merupakan beberapa pemain yang bersinar dari akademi.

 

 

Sepenggal pendapat dari Pedro Rodriguez, yang menghabiskan waktu delapan musim bersama tim senior mengatakan bahwa klub kini gagal mempercayai talenta muda dan menghasilkan para pemain seperti yang muncul di generasi emas yang memenangi enam gelar besar bersama Pep Guardiola.

Pedro, dalam sebuah wawancara bersama CadenaSER, mengatakan, “Banyak pemain muda meninggalkan La Masia. Menurutku, hal itu sangat menyedihkan karena aku pikir Barcelona mulai kehilangan sedikit filosofi yang selama ini digenggam erat oleh akademi dan klub.”

“Tentu saja, akademi masih menjadi tempat yang menghasilkan banyak pemain dunia, namun bedanya dulu kita memakai para pemain tersebut bersama tim utama secara reguler.”

“Saat aku masih disana, kami bahkan pernah punya satu tim yang berisikan para pemain lulusan La Masia semua,” lanjut Pedro. “Sulit rasanya melihat yang hal seperti itu lagi hari ini.”

Kamu tentu masih ingat susunan line-up Barcelona XI di La Liga pada 2012 terdiri dari seluruh lulusan La Masia (Victor Valdes, Martin Montoya, Puyol, Pique, Jordi Alba, Busquets, Xavi, Iniesta, Pedro, Fabregas, Messi), dan rasanya setiap permainan yang kita saksikan di lapangan begitu indah dan penuh makna.

 

Baca: The Making of The Greatest Team in The World 

 

 

Perlukah reformasi?

Sejak kepergian Pep Guardiola, tidak ada satupun pelatih yang memberikan banyak perhatian untuk mempromosikan talenta dari pemain muda. Malah sebaliknya, mereka lebih memprioritaskan hasil dengan merekrut pemain dari luar akademi untuk menyokong tim utama dan melupakan sedikit filosofi klub untuk mempromosikan pemain dari dalam.

Di era Pep, tim B memiliki para pelatih yang lebih tertarik dengan karir mereka sendiri dibandingkan berusaha menaikkan pemain untuk masuk ke tim utama. Tentu saja pelatih akan berganti namun gagasan utama di akademi Barcelona seharusnya diulang, bukan digantikan. Cara berlatih masih dilakukan sama. Namun, sepertinya para pelatih kurang berusaha untuk menantang diri mereka sendiri. Tidak ada yang ingin kehilangan pekerjaan. Intinya, tidak ada pelatih yang mau menyuarakan isu untuk kembali ke filosofi sejati Barcelona.

 

 

Salah satu hal yang juga menjadi penyebab penurunan ini adalah beberapa pendidik dan pelatih telah digantikan oleh mantan pemain, namun bukan karena mereka layak mengedukasi namun karena atas permintaan dewan. Apakah benar, mereka layak untuk membantu menumbuhkan talenta muda? Sepertinya belum tentu.

Yang terlihat sekarang, klub pun sepertinya menyadari hal ini dan mulai membawa banyak remaja untuk masuk ke La Masia melalui FCBEscola yang tersebar di seluruh negara. Jika hal ini tidak diperhatikan dan direncakanan dengan matang untuk jangka waktu panjang, maka semua akan sia-sia saja.

Di era Luis Enrique, taktik yang diterapkan dalam permainan begitu berbeda dengan apa yang diajarkan di akademi. Padahal jika berpegang pada filosofi klub, pemain seperti Xavi fokus pada penguasaan bola dan posisi bermain. Dan, permainan tim saat ini tampak lebih langsung menuju target. Pemain tengah seperti stagnan dan tim akan gagal meraih kemenangan ketika tim serang di lini depan gagal mencapai tujuan.

 

 

Kondisi seperti ini sungguh sangat disayangkan.

Apa yang Pedro katakan tepat pada intinya. Banyak pemain muda La Masia yang kesulitan menembus tim utama, atau lebih buruk lagi mereka bahkan dikirimkan ke klub lain. Sekadar pendapat dari jauh, bahwa klub sepertinya harus kembali pada akarnya dan menghidupkan kembali filosofi yang dilangitkan oleh Johan Cruyff ketika ia membangun dasar dari akademi yang menjadikan FC Barcelona seperti sekarang ini.

 

 

Berita baiknya, Pep Segura, sosok yang sebelumnya mengepalai akademi Liverpool, kini kembali menjabat sebagai General Manager of Football untuk klub. Ia adalah orang yang menyuarakan gagasan kuat untuk mengubah hal-hal yang dianggap tidak sesuai dengan filosofi klub. Namun tentu saja, usaha ini membutuhkan kerja keras dan waktu yang cukup panjang sebelum generasi berikutnya bisa melihat hasil dari gagasan tersebut.

Semoga.

#ForçaBarça

 

Tulisan di atas diambil berdasarkan konten dari berbagai sumber.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *