Astrinovia.com

Walau Salah Kamar #JadiBisa Tidur Nyenyak Berkat StayGuarantee Traveloka

 

 

 

“Every journey has its own story”

 

Setiap perjalanan selalu menghadirkan cerita unik. Ketika menemukan hal tak terduga, maka sebuah perjalanan akan membuahkan pelajaran berharga. Orang bule bilang, “The uncertainty is always there to accompany your journey, so don’t forget about it.” Tidak ada yang pasti dalam setiap rencana. Apapun bisa terjadi dan berubah tanpa aba-aba. Untuk itulah, seorang pejalan harus siap mengantisipasi setiap dinamika perjalanan. Tak disangka, kami jadi punya satu cerita yang lucu seperti ini. Beruntung kami memesan hotel melalui Traveloka dimana fitur StayGuarantee yang mereka punyai menjamin kami bisa menginap.

And the story begins ….

Saya, Syifa dan Rangga, menemukan tiket pesawat promo ke Jakarta-Macau PP dengan harga yang sangat murah, yaitu Rp 550 ribu. Tanpa banyak pikir, kami langsung memesan tiket itu. Kapan lagi dapat harga murah seperti itu, kan? Baiklah, tiket sudah di tangan, yang harus dipikirkan berikutnya adalah tempat menginap. Bagi orang yang senang melancong tentu tak asing lagi dengan situs reservasi online seperti traveloka. Nama ini tidak asing bagi saya, bahkan sudah sejak lama aplikasinya ada di smartphone karena berguna banget buat keperluan jalan-jalan.

Seminggu sebelum keberangkatan, kami bertiga ketemuan di sebuah cafe untuk berembuk menetapkan itinerary dan mencari tempat menginap. Karena kami akan tiba di Hong Kong melalui jalur laut, jadi Rangga mengusulkan untuk mencari hotel di kawasan Kowloon, di dekat terminal ferry. Untuk menghemat biaya, kami mencari hostel dengan fasilitas triple bed di traveloka. Satu bed ukuran double dan satu lagi ukuran single. Saya bisa menempati bed ukuran besar bersama Syifa dan Rangga pakai yang ukuran single. Tak lama kemudian muncul satu nama yaitu Toronto Motel. Motel ini menyediakan kamar yang kami butuhkan, yaitu kamar type triple bed. Harga yang tertera adalah 450 ribu, artinya kami harus membayar masing-masing 150 rupiah saja untuk satu malam. Lumayan murah, kan? Lagipula harganya sudah termasuk pajak dan tanpa biaya lain lagi, jadi cocoklah buat kami bertiga. Rangga langsung booking dan bayar motel itu melalui i-banking. Toronto Motel is paid. Yeay!

 

 

Yes, kamar untuk bertiga sudah kami booking, dan voucher sudah terbit *excited*

Singkat cerita, tanggal 20 November kami take off menggunakan maskapai low cost carrier menuju Bandara Internasional Macau. Setelah sekitar 4 jam kami menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di negeri sejuta Casino itu. Wow, angin kencang dan suhu 18 derajat menyapa dengan riangnya. Alhamdulillah, kami tiba dengan selamat. Setelah cukup puas menghabiskan waktu di Macau, kami berangkat menggunakan bis jemputan gratis dari casino ke terminal ferry turbojet di wilayah Taipa. Dari Taipa, Macau,  kami akan menyeberang ke Kowloon, Hong Kong.

 

 

Hello, Hong Kong!

Saat berangkat waktu sudah menunjukkan pukul 20.30 malam dan perjalanan laut ini menghabiskan waktu satu jam. Berhubung seharian kami banyak berjalan kaki, badan rasanya lelah dan kita semua tidur di ferry. Tak lama, kami kemudian tiba di HK China Ferry Terminal, Kowloon, Hong Kong pukul 21.30 waktu setempat. Dengan berbekal voucher hotel dari traveloka dan setelah bertanya pada petugas informasi kami berjalan kaki menuju Nathan Road. Petugas itu bilang tempatnya tidak jauh dan bisa dicapai dengan jalan kaki saja. Okelah, sambil melihat-lihat kota kami kembali jalan kaki. Sebenarnya agak gempor sih karena badan sudah lelah menggendong ransel dan barang bawaan lain seharian. Tapi gak apalah, anggap aja olahraga *senyum kecut …

Ternyata, eh ternyata, yang disebut dekat itu ketika melihat jarak di peta, tapi kenyataannya mah lumayan jauh. Sekitar 15 menit kami berjalan menyusuri Canton Road, akhirnya tiba di Nathan Road. Itu juga setelah bertanya pada seorang India yang menawarkan menu makan malam di restorannya dia.

 

Coba perhatikan dua bulatan merah itu, jauh kan? Huhu

 

Uuuh … badan rasanya sudah remuk, perut keroncongan, dan rasanya gatal sekali ingin mandi. Sudah kebayang air panas dari shower yang bisa bikin badan rileks setibanya di hotel nanti. Kami berjalan kaki cepat agar segera sampai dan bisa beristirahat.

 

Wah, ternyata hotelnya ada di lantai 8! Bingung juga nyari lokasi receptionnya karena lorong-lorong di flat ini mirip labirin. Perasaan dari tadi muter-muter terus di tempat yang sama. Mood mulai turun dan rasanya bete banget, tapi harus sabar. Finally, ketemu juga ruang receptionnya. Dua staf perempuan orang India menyambut dengan cukup ramah. Ia meminta kami memperlihatkan voucher hotel dan melakukan pengecekan di sistem. Yes, setelah menyimpan uang deposit 100 HKD kami diberi kunci kamar no 4. Gak pakai lama, kami segera diantar menuju kamar.

Sudah bisa santai? Beluuumm ….

 

Pintu masuk Receptionist Toronto Motel

 

Katanya sih memang kebanyakan orang Hong Kong tinggal di dalam kamar flat yang sempit dan terbatas. Kondisi itu disebabkan karena biaya hidup yang tinggi. Segalanya serba mahal. Ya, Hong Kong kan kota metropolis, bisa dibayangkan harga satu kamar kost per bulannya berapa. Pasti jauh lebih tinggi daripada harga kamar kost standar di Bandung hehe …

 

Say what?

Setelah melalui lorong berliku, akhirnya kami sampai di pintu kamar no 4. Kami masuk dan ternyata masih ada beberapa pintu kamar lagi di dalamnya. Dan pintu kamar kami ada di sudut. Oalah, benar-benar seperti labirin, saya sampai pening. Lalu, bagaimana dengan kondisi kamar kami? Coba tebak, gimana?

Sejujurnya saya kaget, karena kamar kami ini sempit sekali untuk ditempati oleh tiga orang. Kami kecewa kamar ini bukan triple room. Hanya ada dua single bed yang mengapit satu meja. Padahal kami pesan kamar triple dengan dua bed ukuran berbeda. Nyatanya tidak begitu. Kami bertiga duduk saling berpandangan dan bengong di ruangan berukuran 2,5×1,5m itu. Di dalam kamar ada AC, kamar mandi, kulkas kecil di bawah meja, jendela menghadap ke dalam flat, bantal, selimut, tempat sampah, dan keset. Kalau untuk satu atau dua orang saja cukup tapi ini kita bertiga!

Setelah tiga menit terdiam, saya bilang, “Kita harus komplen. Kamar ini tidak sesuai dengan kamar yang dipesan.” Saya mengambil telepon dan mencoba menanyakan pada resepsionis kenapa kamarnya tidak sesuai dengan pesanan. Petugas menerima pertanyaan saya dan bilang akan mengecek dulu. Baiklah, kami tidak segera membongkar ransel karena takut salah kamar. Gak lama, petugas datang dan mengatakan, “Maaf, hotel kami hanya punya kamar ukuran double dan single saja, tidak tersedia triple room. Kamar ini memang untuk pesanan Anda”

 

Wah, ini gimana kok bisa salah kayak begini. Mana mungkin kami bertiga berbagi dua tempat tidur single? Salah satu harus berkorban tidak mendapat kasur untuk tidur, kan? Saya gak mungkin tidur berdua dengan Syifa karena satu single bed ini kecil sekali, hanya seukuran badan. Saya bicara panjang lebar dengan petugas, “Mohon maaf, tapi kami memesan triple room seperti yang tercantum di situs, dan hotel Anda menyebutkan kamar itu tersedia. Itu sebabnya kami memesan dan membayar. Tidak mungkin kami membayar untuk kamar yang tidak sesuai dengan kebutuhan kami. Kami tidak mungkin menginap seperti ini, Anda bisa lihat sendiri.”

Petugas hotel kemudian berkata, “Saya paham, tapi kamar jenis triple room tidak tersedia di sistem kami.” Waduh ini gimana. Logikanya, ketika kami memesan kamar, kami pesan kamar sesuai dengan semua detil info yang tercantum di situs hotel. Jadi, mana mungkin kami memesan kamar dua single bed, lha wong di voucher juga tertera kamar pesanan kami itu kamar jenis triple room. Saya bingung, entah apa yang salah, tapi kami tidak bisa menginap dalam kondisi berdesakan. Petugas menangkap keresahan kami dan berkata, “Kami akan coba cek kamar di hotel kami yang lain. Kami akan mencarikan kamar yang lebih luas sesuai dengan pesanan Anda. Jika ingin bersih-bersih atau makan malam dulu silakan, beri kami waktu satu jam setengah, dan kami akan kembali pada Anda.”

 

Dengan StayGuarantee #JadiBisa Tidur Nyenyak

Tidak cukup puas dengan jawaban dan penawaran petugas, Rangga kemudian memakai fitur StayGuarantee traveloka dan mencoba menanyakan situasi ini. Respon dari traveloka terbilang cepat dan mereka bilang akan mencoba melakukan pengecekan dan mengkonfirmasikan dengan pihak motel. Staf traveloka memastikan kami bisa mengajukan komplen langsung ke pihak hotel akibat ketidaksesuaian pesanan ini. Kami paham bahwa seharusnya Toronto Motel mengupdate fasilitas hotelnya secara berkala untuk memperbarui semua info fasilitas yang mereka punya. Walau sedikit kecewa tapi kami cukup puas dengan respon cepat dari traveloka dan kami menunggu pihak hotel untuk memastikan kamar yang sesuai pesanan.

Sambil menunggu kejelasan, kami akhirnya bongkar muatan dan membersihkan badan lalu makan malam di restoran Timur Tengah di seberang jalan. Sekembalinya ke hotel, saya menelepon resepsionis dan menanyakan soal kamar baru itu. Sayang sekali kami kurang beruntung. Pihak hotel tidak bisa menemukan kamar lain karena semua penuh. Yah, apa mau dikata, kami harus menerima situasi yang ada. Sebagai kompensasinya, pihak hotel menambah jumlah selimut dan handuk untuk kamar kami, yang akhirnya kami gunakan untuk alas tidur. Berhubung kami berdua perempuan, maka Rangga yang berkorban tidur di lantai beralaskan selimut tebal hahaha …

 

 

 

Ketika pagi menyapa, saya tanya Rangga, “Gimana Ga, tidurnya, enak gak?”

Dia bilang, “Lumayan nyenyak kok teh, kan selimutnya juga tebal jadi gak kerasa dingin, alhamdulillah.”

Pelajaran bagi kami dari kejadian ini adalah harus berani bertanya, dan lakukan pengecekan ulang bila perlu sampai berkali-kali. Konfirmasikan dengan Traveloka dan juga pihak hotel tempat kita menginap. Kalau ada kesalahan yang tidak bisa diganti, ya terima saja, nikmati dan tertawalah. Hidup itu lucu, jangan dibuat susah. Terima kasih StayGuarantee traveloka atas respon cepatnya, kami #jadibisa tidur nyenyak.

 

 

 

THIS ENTRY WAS PARTICIPATED IN #JADIBISA TRAVELOKA BLOG COMPETITION/HOTEL

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *