Astrinovia.com

Berkibarlah Benderaku Merah Putih Darahku

image credit: flickr

 

“Negeri ini, Republik Indonesia, bukan milik suatu golongan, bukan milik suatu agama, bukan milik suatu kelompok etnis, bukan juga milik suatu adat istiadat tertentu, tapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke!”~ Ir. Soekarno

 

Tadi malam saya melihat sekilas video yang diposting oleh akun gosip paling apdet yang terkenal itu. Video itu berisi rekaman saat panitia i-Sing World 2017 menyebut nama INDONESIA sebagai juara kedua kompetisi menyanyi tersebut. Hati ini bergetar. Betapa banyak sekali potensi yang dimiliki anak muda kita untuk mengharumkan nama bangsa.

Penyanyi bernama lengkap Tommy Lakawolo Boly, seorang putra Maumere, kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), mewakili Indonesia maju hingga ke putaran kedua grand final kategori Country Song bersama penyanyi asal Amerika Serikat. Tommy menyanyikan lagu berjudul Gemu Fa Mi Re sambil bergoyang khas Sikka di ajang bergengsi yang diikuti berbagai negara. Saat namanya disebut, Tommy membawa serta Sang Merah Putih dan dengan bangga hati mengibarkannya di atas panggung.

Lalu karena penasaran, saya menelusuri akun pribadi Tommy Boly dan menemuan satu unggahan video pada bulan Agustus 2017. Ia menyanyikan lagu “Berkibarlah Benderaku” karangan Ibu Sud dengan diiringi alunan instrumen dari orkes kampung Maumere Manise. Rasanya sudah lama sekali tidak mendengarkan lagu wajib nasional seperti itu. Ada satu bait dalam lirik lagu itu yang menyentil nurani saya.

“Berkibarlah benderaku

Lambang suci gagah perwira

Di seluruh pantai Indonesia

Kau tetap pujaan bangsa

 

Siapa berani menurunkan engkau

Serentak rakyatmu membela

Sang merah putih yang perwira

Berkibarlah Slama-lamanya

 

Kami rakyat Indonesia

Bersedia setiap masa

Mencurahkan segenap tenaga

Supaya kau tetap cemerlang

 

Tak goyang jiwaku menahan rintangan

Tak gentar rakyatmu berkorban

Sang merah putih yang perwira

Berkibarlah Slama-lamanya”

 

Lirik yang ditandai dengan warna abu-abu lah yang menyentuh pemikiran saya malam itu. Disitu dituliskan siapa saja yang berani menurunkan bendera Merah Putih kami akan serentak membela. Tetapi kemudian lirik itu membuat saya merenung dan bertanya-tanya. Benarkan akan seperti itu? Apakah rasa nasionalisme dan patriotisme kaum muda sekarang ini semakin dalam ataukah malah tercerai-berai?

 

image credit: flickr

Melihat kembali banyaknya isu panas yang berseliweran setiap hari, dimulai dari pro kontra pilkada, isu agama, lalu keinginan untuk mendirikan negara khilafah, apakah masih ada yang membela Merah Putih demikian gagahnya seperti saat masa perjuangan menuju kemerdekaan dulu? Mohon maaf, kok rasanya sangsi ya. Dalam pemikiran saya, entah kenapa sepertinya rasa bela negara itu sudah menurun drastis. Apa yang menjadi penyebabnya? Banyak hal tentunya. Dinamika bangsa dan situasi negara dari tahun ke tahun makin riuh. Saya merasa cukup prihatin dengan kondisi yang tampak sekarang ini.

 

4 Pilar MPR

Senin kemarin, tanggal 11 Desember 2017, saya berkesempatan bertemu dengan Ketua MPR, Pak Zulkifli Hasan, dalam acara Gathering Netizen MPR dan BloggerBdg di hotel Aston Tropicana, Cihampelas Bandung. Banyak sekali pertanyaan yang diajukan oleh teman-teman blogger, dimulai dari masalah tilang, tingginya pajak royalti buku yang merugikan penulis hingga kosongnya gas di warung-warung.

Dalam acara bincang santai ini disinggung kembali mengenai 4 Pilar MPR, yaitu UUD 1945, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI. Saya warga negara yang cinta keanekaragaman bangsa. Merasa bahwa semua pihak memiliki hak sama untuk hidup saling berdampingan di negara tercinta ini. Tapi, idealisme yang dimiliki setiap warga makin kini makin runcing. Hal apapun yang tidak sepaham dengan idealisme salah satu pihak maka cenderung menjadi lawan, atau bahkan musuh.

Sepengetahuan saya, sebagai warga negara yang awam, Indonesia didirikan di atas kebhinnekaan dari ujung barat Sabang hingga ujung timur Merauke. Pancasila adalah ideologi negara yang menguatkan keberagaman ini, dan UUD 1945 menjadi pancang yang paling kokoh untuk tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bisakah kita sejenak diam, mengalihkan perhatian dari hiruk pikuk keramaian di dunia maya ataupun nyata. Sejenak kita mencoba memikirkan apa hal paling penting untuk masa depan bangsa ini? Pikirlah tentang Indonesia, tempat kita semua merajut mimpi dan cita-cita, tentang kemauan dan kehidupan berbangsa yang adil dan berperikemanusiaan.

Sebenarnya saya ingin bertanya pada Pak Zulkifli Hasan, bagaimana MPR sebagai lembaga yang bertugas mengawal konstitusi mengatasi kondisi seperti ini? Tapi rasanya, topik yang akan saya tanyakan terlalu sensitif dan panas, maka saya urungkan. Patut untuk disadari oleh semua kalangan masyarakat bahwa menjawab tantangan nasionalisme ini bisa dimulai dari diri sendiri. Dari hal terkecil yang memberi manfaat untuk banyak orang.

 

Dimulai dari hal kecil

Kesadaran warga akan nilai nasionalisme merupakan salah satu pencapaian besar dalam keberhasilan suatu negara. Tapi, apa yang bisa dilakukan oleh warga  negara awam seperti saya? Bisa kok. Banyak yang bisa dilakukan. Sebagai seorang blogger, adalah terpuji ketika bisa menyuarakan sebuah gagasan atau opini secara positif pada publik melalui tulisan yang memotivasi dan inspiratif. Atau misalnya ketika sedang bersuara di Twitter, kita bisa membuat cuitan yang menyegarkan, menginspirasi dan memotivasi orang lain.

Satu hal yang penting, ketika muncul isu negatif, ada baiknya kita telusuri dulu kebenarannya, jangan asal berbagi saja. Redamlah emosi dan kedepankan rasio agar bisa berbagi banyak hal positif. Ya, mungkin gampang saja kalau cuma bicara, tapi kita patut mencoba. Kalau tidak kita sendiri yang berusaha, lalu siapa lagi? Tidak mudah terprovokasi juga teramat penting di zaman now ini. Apa yang terlihat buruk belum tentu benar adanya. Apa yang memang buruk bukan berarti keseluruhan komponen menjadi buruk.

Saya percaya, blogger, sebagai penulis yang baik, melalui tulisannya mampu mengubah dunia walau hanya setitik saja. Yang paling penting adalah tetap berpikir positif, lebih semangat berkarya, untuk kepentingan keluarga juga masyarakat banyak. Membangun rasa bangga akan negara sendiri itu tidak mudah, namun dengan keyakinan bahwa kita adalah satu keluarga, rasanya Indonesia yang lebih baik bisa tercapai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *