Astrinovia.com

Nasionalisme Dalam Sepakbola, Satu Cara Untuk Mencinta

Credit: Bola.com
Credit: Bola.com

Gadis muda mendongakkan wajah, menegakkan badannya, menatap lambaian sang Merah Putih di atas sana dalam haru. Airmatanya menetes perlahan menuruni pipi tanpa terasa. Ada rasa rindu, bangga, dan semangat untuk memberikan yang terbaik bagi negara, dengan caranya sendiri. Berada di benua biru, sendirian, dalam waktu yang cukup lama, bukan perjalanan yang mudah untuk diarungi. Ini adalah keistimewaan. Ia bertekad untuk menyumbangkan sedikit pengalamannya hidup sendirian di negara asing bagi semua orang di tanah air sepulangnya nanti –Lucky Backpacker 2011

***

Pada 20 Mei lalu dilangsungkan acara Ngobrol Santai bareng MPR RI di Novotel Hotel Bandung. Tema yang disuguhkan sangat menarik berkaitan dengan sosialisasi 4 pilar penyangga negeri, yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Empat pilar yang teramat penting ini seringkali dilupakan oleh kita. Padahal para guru sekolah sudah mulai memberikan edukasi tentang empat fondasi ini sejak di tingkat dasar. Untuk itu, acara bincang santai ini adalah kembali mengingatkan semua orang bahwa Indonesia adalah negara besar yang terbentuk dari kebhinnekaan yang tersebar di seluruh nusantara, dalam satu filosofi Pancasila dan dijalankan berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945.

Terkait dengan atmosfir panas paska pilkada ibukota beberapa bulan lalu, seorang warga negara yang baik tentunya tidak menyerap langsung serbuan informasi yang membludak di internet. Banyak media online yang kini memuat judul atau teaser menarik yang justru terkesan provokatif. Padahal bila ditelaah lebih dalam lagi, belum tentu tulisan yang disajikan itu benar adanya sesuai fakta. Untuk itu, cerdas memilah informasi dan membagikan hanya yang bermanfat ke ruang publik adalah sikap yang harus diterapkan.

 

 

Nasionalisme dalam sepakbola

Sepakbola dan nasionalisme tidak diragukan lagi merupakan salah dua isu paling emosional yang ditemui di dunia modern. Kedua hal ini menginspirasi kecintaan yang dalam dan kerapkali memicu kekerasan. Tulisan ini memaparkan sedikit tentang bagaimana olahraga bisa memberi dampak positif pada pembangunan dan peningkatan rasa nasionalisme berdasarkan perspektif pribadi.

Pernahkah terpikirkan kenapa ribuan orang mau mengibarkan bendera dan melukis wajah mereka dengan warna merah putih, saat menyaksikan timnas kesayangan berlaga di lapangan? Kenapa nasionalisme bisa terbentuk melalui perbedaan dalam olahraga? Bisakah rasa bangga akan perbedaan ini diterapkan dalam kehidupan sehari-hari? Kondisi bangsa yang tampak sekarang rasanya sedikit mengalihkan rasa kebhinekaan yang tertanam di masyarakat. Carut marut dan panasnya suasana politik di dalam negeri mulai mengkhawatirkan. Banyak dari kita lupa bahwa Indonesia terbentuk dari ribuan perbedaan dan menjadi satu di atas empat penyangga bangsa yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Seorang Indra Sjafrie sempat berujar, ketika timnas Indonesia U-19 hendak terjun ke Piala Asia, “Moral pemain sangat siap untuk berjuang. Sebuah kebanggaan berjuang untuk bangsa. Bukan popularitas dan kekuasaan yang dicari, tapi perjuangan keras demi bangsa dan negara.”

Yang dikatakan oleh Indra Sjafrie menohok hati. Betapa sepakbola bisa menjadi pemersatu bangsa. Menjadi satu faktor yang bisa mewakili identitas bangsa. Satu persatuan dan kesatuan yang mampu mengangkat harkat dan derajat negeri di mata dunia. Kalah atau menang tidak menjadi masalah, karena seyogianya perjuangan merupakan sebuah proses menuju kedewasaan dan perluasan wawasan individu. Tetapi, jika bisa meraih kemenangan, bukankah hal itu sangat membanggakan?

Ngobrol Santai 4 Pilar MPR, Novotel Hotel, Bandung 20 Mei 2017.
Ngobrol Santai 4 Pilar MPR, Novotel Hotel, Bandung 20 Mei 2017.

Sepakbola hadir ditopang oleh kecintaan, hasrat, sportifitas dan kesetiaan. Ketika timnas Garuda berhadapan dengan Harimau Malaya di babak penyisihan Piala AFF Suzuki pada 2010 di Gelora Bung Karno, tidak ada satu orang pun yang memandang orang lain dengan berbeda di dalam stadion. Yang tampak adalah satu kesatuan dengan fokus dan tujuan sama, mendukung timnas kesayangan meraih kemenangan atas rival sejati dari negara tetangga. Semua penonton berbaur, mengenakan balutan kostum dengan warna sama, menyerukan yelyel penyemangat, agar 11 pemain yang berada di lapangan semakin kuat dan penuh motivasi membekuk lawan dengan hasil mengesankan. Tidak ada yang menanyakan darimana asalmu, atau apa keyakinanmu, atau siapa kamu hingga bisa datang ke stadion ini? Yang ada hanyalah kita Indonesia, mendukung penuh perjuangan tim nasional meraih kemenangan demi kebanggaan bangsa.

Credit: Bola.com
Credit: Bola.com

Dari perspektif manapun, literally, sepakbola tak lebih hanya merupakan 22 orang yang berlarian di lapangan selama 90 menit mengejar satu benda, yaitu si kulit bundar, bola. Namun, ternyata dia bisa menyihir banyak orang. Semua bisa terfokus pada objek yang sama. Tidak memikirkan hal-hal besar di luar itu untuk melihat terciptanya sebuah gol. Sama halnya dengan berbangsa dan bernegara. Anggaplah Indonesia berada di dalam satu lapangan raksasa dimana seluruh pemainnya adalah warga negaranya sendiri. Untuk meraih satu tujuan besar dibutuhkan kerjasama tim yang baik. Untuk mencapai satu gol di ujung sana, setiap pemain harus bisa bertoleransi, menciptakan ruang untuk meraih peluang. Ketika semuanya bisa bekerjasama demi satu tujuan sama, betapa keberhasilan yang ada di depan sana akan sangat terasa membahagiakan.

suporter-timnas-indonesia-yang-mendukung-elie-aiboy-dkk-di-_121129085249-561
Credit: Republika

Bercermin dari sepakbola, bisakah kita mengedepankan persatuan dan kesatuan di atas segala perbedaan yang menopang tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menjadi fans sepakbola yang penuh toleransi merupakan satu contoh bahwa suatu bangsa akan menjadi satu kekuatan besar ketika semua orang yang bernaung di bawahnya mau menjunjung tinggi solidaritas demi keutuhan negara.

Kita adalah Indonesia, bangsa besar dengan harkat derajat tinggi di mata dunia. Indonesia yang bersatu dan berdaulat. Indonesia yang santun dan bermartabat. Yuk, dimulai dari diri sendiri. Mengedepankan persatuan dan kesatuan. Dimulai dari sisi manapun yang kamu bisa, sekecil apapun porsinya, ingatlah bahwa kita semua adalah Indonesia.

#KitaIndonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *