Astrinovia.com

Kejuaraan Renang Pertama Haaken, Kamu Bisa!

lintasan-6

“DIFFERENT is a word that describes all children.”

Kejuaraan renang antar pelajar se-Jawa Barat Piala Rektor UPI 2016 dimulai. Memahami anak sendiri rasanya lebih sulit daripada memahami satu tugas yang dibebankan pada saya di kantor. Kesibukan serta rutinitas yang tiada henti kadang membuat saya lupa bahwa anak kesepian.

Mereka ingin ibunya ada di saat mereka butuhkan. Kadang, bukan terkadang lagi, sering orangtua lebih mengedepankan emosi daripada menahan diri untuk sekedar mau mendengarkan apa kata anak. Anak membutuhkan perhatian terlepas dari apapun kondisi orangtua mereka saat ini.

Hari itu, saya merasa bangga. Pada akhirnya, seorang anak yang diperkirakan tidak mau berkompetisi karena minder dan malu, ternyata malah bisa berprestasi. Meski prestasinya tidak mewah di mata umum tapi di mata saya pencapaian yang diraihnya sangat istimewa.

Haaken seorang anak yang aktif. Emosinya kadang meluap-luap. Ia tidak begitu suka ditekan atau dipaksa oleh siapapun, termasuk oleh ibunya sendiri. Di depan banyak orang ia seorang anak yang manis, mendengar apa kata ibunya dengan baik. Ya, seperti anak penurut banget kalau di luar rumah. Tapi di dalam rumah, ia beda lagi. Sifat manja mendominasi perilakunya.

rs2

Lomba renang pertama

Haaken seorang anak yang memiliki fisik sempurna. Setidaknya menurut saya. Menginjak usia 11 tahun, kelas 5 SD, tingginya sudah hampir menyamai saya. Badannya besar dan proporsional. Wajahnya lucu dengan hidung minimalis seperti ibunya, saya. Tapi, dia paling susah disuruh ngerjain peer. Karena ia tidak begitu berminat pada kegiatan akademik, maka untuk menyalurkan tenaga aktifnya, saya biarkan ia berolahraga. Sepertinya, di bidang olahraga Haaken lebih bisa berekspresi.

Renang menjadi cabang olahraga yang diminati Haaken. Tiga bulan terakhir ini ia rutin berlatih renang bersama klub tempatnya bergabung. Kolam renang tempat latihannya dekat, hanya tinggal menyeberang jalan saja dari rumah. Haaken berlatih renang 3 kali seminggu, yaitu hari Selasa, Jumat dan Minggu. Anaknya cukup rajin dan mulai menguasai gaya renang selain gaya dada. Terakhir dia cerita, “Mih, Aken sekarang bisa balik badan setelah 50 meter! Ternyata gampang, mih!” matanya berbinar saat menceritakan pengalaman barunya itu.

Saya senyum dan memeluk Haaken, “Iya atuh, pasti bisa kalau latihan. Anak mamih mah hebat!” selang dua minggu setelah itu, pelatih renangnya memberitahukan kalau Haaken diikutsertakan dalam kejuaraan renang antar pelajar se-Jawa Barat satu bulan lagi. Wah, ini kesempatan bagus. Agar anak punya semangat berkompetisi dan membuktikan diri.

Alhamdulillah Haaken senang dan bersedia ikut lomba itu. Latihannya semakin rajin dan makin sering. Setiap kali berlatih sang pelatih sudah siap dengan pencatat waktu. Mendekati hari H, catatan waktu Haaken dalam gaya dada 100 meter makin bagus. Dan selama latihan itu tidak ada kendala berarti. Tapi, di hari besar yang ditunggu Haaken mulai tantrum sejak pagi.

I support you all the way!

Disinilah orangtua harus tanggap dan berinsting kuat bahwa tantrum anak ada sebabnya. Kemungkinan terbesar adalah karena anak gugup akan menghadapi satu lomba besar dimana pesertanya datang dari banyak kota lain yang tidak dikenalnya. Haaken mulai rewel sejak menunggu mobil sewaan untuk menuju Gelanggang Renang UPI, Bandung.

Kami tiba di kolam renang dua jam lebih awal dari waktu yang ditentukan oleh pelatih. So, masih banyak waktu untuk melihat-lihat situasi di sekitar kolam. Tantrum Haaken belum juga berhenti. Ia merengek ingin kesana kemari, beli ini itu, tidak mau difoto karena katanya memalukan, dan banyak lagi. Karena tidak mau merusak moodnya akhirnya saya memutuskan untuk keluar ruangan sebentar mencari angin segar.

Cuaca saat itu sebenarnya cukup menakutkan, langit tampak gelap dan siap menumpahkan jutaan liter air yang sudah terkumpul. Yak, akhirnya hujan turun dengan derasnya disertai gelegar petir dan kilat yang menyambar disana sini. Semua orang menyingkir dari kolam karena cuaca yang cukup ekstrim. Untungnya lomba baru akan dimulai setelah Jumatan.

Hujan mulai mereda menjelang acara dan para peserta mulai melakukan pemanasan di kolam kecil. Haaken sudah tidak tantrum lagi karena sudah bertemu dengan pelatih dan teman-temannya. Ia kelihatan gembira sekali. Dari rundown acara, anak saya mendapat giliran bertanding di acara ke 37 sesi kedua. Dan, di saat pelatih mengumumkan jadwal bertanding itu acara baru menginjak yang ke-21 lintasan 4. Wah, lama juga ya.

Setelah menunggu lama, akhirnya giliran Haaken tiba. Papanya, neneknya, tante dan omnya semua sudah berkumpul untuk memberikan teriakan penyemangat. Eh ….. tapi anaknya malah hilang. Setelah dicari kesana kemari akhirnya ketemu juga. Ternyata dia malah sudah duduk manis di ruang persiapan beserta peserta lainnya. Ugh, Aken nih ada-ada aja deh.

Ready, get set, go!

Haaken sudah masuk ke lintasan. Ia bersiap. Tengok kiri dan kanan apakah sudah berdiri di lajur yang tepat. Yup, sudah di lintasan 4 seperti yang tercantum dalam rundown. Di sesi ini Haaken akan berkompetisi dengan peserta dari Garut, Tasikmalaya dan Bandung. Saya bisa merasakan isi hatinya saat itu. Haaken pasti degdegan karena inilah kali pertama dirinya mengikuti kejuaraan besar seperti ini.

Semua peserta sudah dalam posisi siap sedia. Menunggu peluit berbunyi tanda dimulai dan …. brussss! Semua peserta melakukan start berbeda-beda. Haaken di lintasan 4 terlihat melirik kiri dan kanan untuk memperkirakan posisinya. Dari kejauhan saya, hanya bisa mendorong dengan doa dan teriakan kencang memberi semangat. Meski saya tahu gak akan terdengar tapi, seruan dari hati pasti akan tersampaikan hehe …

Alhamdulillah, Haaken berhasil selesai di posisi kedua! Whaaaa hal ini benar-benar tidak saya sangka. Rasa bangga dan haru membuncah. Ingin rasanya langsung berlari menyambut Haaken di ujung sana. Tapi tidak bisa. Baiklah, saya menunggu di tribun atas saja. Tak lama Haaken datang dengan wajah berseri-seri, “Mamiiihh, Aken di posisi kedua dan masuk penyisihan!” wah, rasanya bahagia sekali mendengar ia berkata seperti itu.

Satu hal penting yang saya tanyakan padanya adalah, “Ken, gimana perasaannya tadi bisa selesai di posisi kedua?” Ia menjawab, “Aken seneng pisan mih. Aken bisa yah geningan? Nanti mau ikutan lagi mih kalau ada lomba lagi.” Dari ekspresinya saya tahu, Haaken gembira dan bahagia dengan pencapaiannya sendiri. Saya, sebagai orangtua, merasa harus terus interospeksi diri dan berbuat lebih baik lagi untuk anak saya.

Meski anak saya tidak begitu berprestasi di bidang akademik, mungkin siapa yang tahu, di bidang lain ia menemukan talentanya yang paling besar. Doaku, selalu di nadimu, anakku. Semangat!

2 thoughts on “Kejuaraan Renang Pertama Haaken, Kamu Bisa!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *