Inspirasi Hari Ini, Sepenggal Haru Dari Balik Jendela Bis Kota

Nikmati Citarasa Kari Khas Jepang di A&W Restoran
October 4, 2016
Bakmi Mewah Rasa, Sajian Mie Ala Restoran Mewah
October 18, 2016

Inspirasi Hari Ini, Sepenggal Haru Dari Balik Jendela Bis Kota

frog-1089742_1920

Hal kecil apa yang bisa kamu lakukan saat ini yang mungkin bisa mengubah dunia? Ide sederhana seperti apa yang mungkin bisa memberikan manfaat besar bagi orang lain dan berpotensi mengubah cara pandang orang pada kehidupan? Adakah pernah terpikir hal-hal seperti ini?

Masih ingat pada Trevor McKinney (Haley Joel Osment) dalam film Pay It Forward? Seorang anak yang berusaha dengan gigih menebar kebaikan dan percaya bahwa kebaikan tersebut akan kembali padanya, dengan baik pula. Film ini begitu menyentuh hati, mengingatkan kita semua untuk lebih banyak menebar kebaikan ke seluruh penjuru dibandingkan berlomba-lomba menjadi pusat perhatian. Apa yang kamu tanam itulah yang akan kamu tuai.

Ada sejumput kisah yang akan terus lekat dalam ingatanku. Cerita dari seorang teman yang semangatnya tersematkan haru karena seorang bapak tua. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk pamer, tetapi mengingatkan diri agar bisa menjadi manusia yang lebih baik setiap harinya. Seperti yang dituturkan oleh AA Gym, “ Menjauhi segala bentuk kedzaliman, sekecil apapun itu  adalah sebagian ajaran keadilan dan kedamaian dalam Islam.”

The best and most beautiful things in the world cannot be seen or even touched. They must be felt with The Heart -Helen Keller.

Here we go …

Pagi itu, bis kota melaju santai di jalur padat semrawut di wilayah timur Bandung. Setelah melewati terminal bis Leuwipanjang, hampir semua penumpang di dalam bis turun, membuat ruang di dalam bis menjadi lengang. Dua perempatan lagi maka bis akan tiba di tempat tujuan. Jaraknya sekitar 3 kilometer di depan sana.

Tak lama kemudian bis berhenti. Seorang bapak berpakaian lusuh naik ke dalam bis sambil menenteng tas travel berukuran sedang yang sudah robek di banyak sudut. Sendal jepit yang dikenakannya kekecilan dan warnanya tidak sama. Kakinya besar, kentara sekali jejak tempaan hidup yang keras dari tebalnya telapak kaki si bapak hingga jelas terlihat sandal kecil itu tak mampu menampungnya. Kuku kakinya tampak hitam. Guess what? Sepertinya, meski berusaha dibersihkan beberapa kali tapi hitam itu bukan kotor, melainkan bukti pengalaman pahit yang sudah dialaminya.

Pakaian yang dikenakannya biasa sekali. Kaus oblong sisa pembagian sebuah partai saat musim kampanye yang berbahan menerawang dan panas membungkus badannya. Celana panjangnya berwarna biru pudar tanda sudah tahunan dipakai terus menerus.

Wajahnya sudah tua. Rambut yang memutih di beberapa bagian mewarnai tatapan mata yang kosong. Cara duduknya tidak nyaman, awkward, seakan dirinya dipandangi oleh orang-orang di sekitarnya. Padahal tidak, semua penumpang sibuk dengan pikiran dan aktifitasnya masing-masing. Wajahnya lesu, kulit mukanya kusam, lalu berusaha membuat dirinya duduk nyaman dengan menghela nafas.

Pak kondektur datang menagih ongkos. Si bapak menyodorkan tiga lembar uang seribuan lusuh pada kondektur, namun tak lama ditariknya satu lembar. Pak kondektur bertanya, “ Bapak mau turun dimana, pak?” Bapak menjawab,” Disana, sebentar lagi.” Lalu dia mengacungkan selembar uang seribu itu sambil berkata lirih, “ Tapi, ini …..” Pak kondektur memandang dan mencoba memahami, “Oh hmm, baik. Gak apa, pak. Silakan duduk.” Bapak kembali menghela nafas. Ada terbaca sedikit lega dalam ekspresinya.

Bapak tua ini duduk tak jauh dari tempatnya berada. Dua bangku kosong memisahkan mereka. Jajaran bangku yang ada di hadapan diisi penuh oleh penumpang. Sekitar 6 bangku berderet dan masing-masing ditempati oleh orang-orang yang sibuk melihat jam tangannya, memainkan hape, tidur, ngelamun, dan celingukan melihat jalanan (memastikan dirinya sudah berada dimana).

Dia … perhatiannya tertuju pada si bapak tua. Entah kenapa hati rasanya sesak melihat beliau. Membayangkan bapaknya sendiri yang jika suatu hari harus bepergian sendirian dengan kondisi yang sudah sepuh. Jujur, hatinya menangis. Tangannya bergerak perlahan meraba saku celana, mencari sesuatu yang mungkin bisa bermanfaat untuk si Bapak. Yah, hanya ada empat ribu. Dia ingat dompetnya kosong, tidak ada uang tunai disitu. Jatah transportasi mingguannya habis hari Jumat ini.

Selanjutnya,

Dia lalu ingat suka menyimpan uang ongkos di saku depan tas ransel. Ah, what a bless. Ada selembar duapuluh ribuan nyempil disana. Satu lembar itu digenggam. Ia ingin memberikannya pada si Bapak, tapi malu. Dia gak mau orang-orang melihat saat dirinya memindahkan uang itu ke tangan si Bapak. Sebentar lagi bis akan melewati kantor, jadi dia siap-siap berdiri sambil mendekati si Bapak. Saat berada tepat di depannya, disisipkannya uang itu ke tangan bapak tua. Badannya berusaha menutupi pandangan penumpang yang ada di jajaran bangku sebelah kanan agar aksinya tak terlihat.

Bapak tua bengong. Tangannya menggenggam uang itu. Wajahnya mendongak dan matanya menatap lurus penuh tanya. Dia tak bisa berkata apapun. Matanya berkaca-kaca. Hanya senyum manis dan anggukan kepala yang bisa ia tunjukkan padanya. Hati kecilnya berbisik, “Hanya ini yang bisa aku berikan. Semoga, segala kasih selalu menyertai perjalanan hidupmu, pak. Semoga bermanfaat.”

Entah kenapa, sesaat setelah itu, hatinya merasa lega sekaligus pedih. Hanya satu harapan dan doa yang langsung ia panjatkan pada Tuhan saat itu juga. Semoga, kemanapun, dimanapun kedua orangtuanya berada, Tuhan selalu memberikan perlindungan atas mereka. Apapun bentuknya, dari siapa datangnya, semoga keberkahan dan kebaikan selalu menyertai hidup ibu dan bapaknya, begitu juga mereka yang selalu menebar kebaikan ke berbagai arah.

Setelah turun dari bis, temanku tersenyum dan melangkah ringan melewati pintu gerbang kantor. Hatinya lapang, penuh syukur. Betapa Tuhan sudah memberikan banyak berkah dalam hidupnya dan terus melimpahinya meski kadang dirinya sering lupa. Betapa hanya sedikit kebaikan bisa menjadikan dunia tampak lebih indah dan ceria.

Yuk, mencoba tidak melulu melihat kesalahan orang lain, tapi sibukkan diri melihat kekurangan sendiri agar bisa terus memperbaiki diri. Amin allohuma amin …

“Because it proves that you don’t need much to change the entire world for the better. You can start with the most ordinary ingredients. You can start with the world you’ve got.”

― Catherine Ryan Hyde, Pay It Forward

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *