Pulau Tunda, Pesona Tersembunyi di Utara Banten | Traveling

Mencicipi Makanan Enak di Baxter Smith Kitchen n Tavern Senopati
June 10, 2016
Curhat Bandung, 20 perempatan Antara Ujungberung – Pasir Koja | Bandung Juara
June 13, 2016

Pulau Tunda, Pesona Tersembunyi di Utara Banten | Traveling

Pulau Tunda, Banten / doc ANC

Pulau Tunda, Banten / doc ANC

Ada yang pernah ngetrip ke Pulau Tunda? Sebuah pulau kecil yang berada di sebelah utara Teluk Banten. Pulau Tunda, meski namanya tidak begitu ngehits tapi saya cukup tertarik karena menurut referensi yang dibaca dari banyak sumber, Pulau Tunda ini punya spot snorkeling dan diving yang cukup bagus. Belum lagi pemandangan saat sunset dan sunrise yang keren punya.

Pulau Tunda berada di desa Wargasara Kecamatan Tirtayasa Kabupaten Serang Provinsi Banten. Banyak orang bilang pulau ini tidak terlalu terkenal karena konon biaya menuju kesana cukup mahal. Tapi, ternyata bisa kok, dengan budget yang hemat saya sampai juga ke Pulau Tunda. Thanks, Kampung Trip! Bersama seorang sahabat, Mbak Enny, saya berangkat berdua dari Bandung. Meeting point pertama di terminal Leuwi Panjang untuk kemudian mencari bis tujuan Serang. Waktu itu kami naik bis Bima Suci dengan tiket 90 ribu satu kali jalan. Kami mengambil bis malam pukul 21.00 karena perkiraan perjalanan butuh waktu sekitar 7-8 jam. Tapi ternyata bis melaju tanpa hambatan dan kami tiba di Cilegon pukul 02.00 WIB. Whaa, masih pagi banget. Kami lalu memutuskan untuk menunggu jemputan di restoran cepat saji sambil meluruskan badan.

Setelah bertemu dengan teman-teman lain, kami semua berangkat ke pelabuhan Karangantu menggunakan sepeda motor. Konon, pelabuhan Karangantu ini dulunya termasuk pelabuhan bertaraf internasional. Banyak pedagang asing dari Persia, Gujarat dan Arab singgah kesini. Namun sayang, kini kondisi pelabuhan ini tidak begitu terawat. Banyak kapal kecil bersandar disini termasuk kapal yang rusak dan karam yang mengganggu pemandangan. Makanya, pelabuhan ini menjadi tidak begitu populer sekarang ini.

Untuk menuju Pulau Tunda kami menyewa perahu kecil yang akan membawa kami selama tiga jam perjalanan di laut. Saya membayangkan rasanya naik perahu selama tiga jam di atas laut, ngeri juga dan rasanya tidak enak. Tapi untung saja teman-teman yang lain begitu semangat dan menghibur sehingga saya lupa sedang berada di atas laut lepas. Panasnya matahari sangat terasa ketika kita berada di perahu kecil. Tapi semilir angin juga membuat kita jadi mengantuk. Saya memutuskan untuk tidur karena tidak ada yang bisa dilakukan selain ngobrol atau memandangi laut. Lumayan nabung tenaga biar puas main air.

wpid-rps20151028_204128

Akhirnya, kami tiba di dermaga pulau dengan selamat. Legaaa …

Dermaga pulau terlihat sederhana dan tebakan saya pulau ini bukan tempat tujuan wisata favorit. Walau begitu, pulau ini berpenghuni. Ada sekitar 3000-an penduduk disini, berada dalam satu desa yang terdiri atas dua dusun. Tidak ada penjual souvenir di pulau ini dan masyarakat setempat mencari nafkah dengan bercocok tanam, memelihara kambing dan berdagang. Kami menginap di rumah yang dekat ke dermaga jadi hanya butuh beberapa langkah saja dari gerbang masuk Pulau Tunda. Ada juga penginapan yang langsung menghadap ke pantai dan di dekatnya banyak tenda-tenda yang juga ditempati oleh beberapa pengunjung lain.

Sebelum nyebur buat snorkeling kami sempatkan menyantap makan siang yang disuguhkan oleh pemilik rumah, yaitu ikan tongkol segar, nasi panas, sambal, sayuran plus semangka dingin. Hmm, nikmat banget, Alhamdulillah. Setelah itu kami membereskan barang di kamar dan istirahat sebentar, lalu bersiap naik perahu lagi menuju spot snorkeling. Oh ya, untuk diketahui saja, listrik di pulau ini menyala dari pukul 18.00 sampai 06.00 jadi kalau ingin mengisi baterai gadget baiknya isi penuh di waktu malam, mumpung listriknya masih nyala. Bagaimana dengan sinyal dan internet? Siap-siap saja dengan kenyataan bahwa sulit sekali menemukan sinyal untuk bisa online di pulau ini. Hanya ada beberapa titik yang memungkinkan kita mendapat sinyal dan itupun hanya dari XL saja. Tapi, kalau kamu sudah punya hape 4G maka sinyal bisa lebih mudah masuk. Terbukti, Mbak Enny yang hapenya sudah 4G bisa bbm-an dengan lancar tapi saya begitu tersendat meskipun kartu sim kita dari provider yang sama. Hiks, sedih juga.

 

Snorkeling time

Jam 2 siang kami mulai berangkat menuju spot snorkeling. Benar, air lautnya jernih dan dari atas perahu saya bisa melihat terumbu karang di bawah dengan jelas. Ada karang meja yang berukuran besar-besar disini. Ikannya sangat beragam dan saya sempat bermain-main dengan Nemo. Soft coralnya juga bagus-bagus, bikin betah main air deh. Menurut cerita masyarakat, pulau ini menjadi semacam wilayah perlintasan lumba-lumba, jadi kemungkinan besar pengunjung bisa melihat gerombolan ikan ini. Sayangnya, saya tidak beruntung, hiks. Pulau ini dikelilingi mangrove yang sayangnya ada beberapa titik yang dipenuhi sampah. Tapi jangan salah, begitu nyebur ke laut maka kamu pasti takjub. Pokoknya seneng banget deh. Indah! Awalnya saya sempat malas untuk snorkeling karena ingat pertama kali melakukannya saya selalu tersedak air laut. Dan rasanya itu sangat tidak enak. Tapi melihat air yang jernih, akhirnya saya nyebur. Mana tahaan … akhirnya main air juga. Kami menghabiskan waktu dengan snorkeling sampai sore. Kalau tidak diingatkan untuk naik mungkin kami tidak akan sempat melihat sunset di dermaga.

Keindahan bawah laut Pulau Tunda ini masih alami dan belum banyak terjamah. Terumbu karangnya saja tumbuh di tempat dangkal yaitu sekitar 1-10 meter saja dari permukaan laut. Bagian yang dipenuhi terumbu karang ada di bagian utara pulau karena bagian selatan lebih banyak dipakai untuk aktifitas masyarakat. Kalau kamu bergerak ke bagian timur hingga tenggara pulau yang arus airnya cukup besar kamu bisa mencoba diving disini. Kamu juga bisa mancing kalau tidak suka snorkeling atau diving. Jangan lewatkan juga menikmati sunrise di dermaga, sama indahnya seperti memandangi sunset.

Dua hari di pulau ini rasanya tidak cukup. Yah, meskipun sulit untuk berkomunikasi dengan keluarga tapi tidak masalah, karena liburan memang waktunya untuk menyegarkan pikiran. Berbagi di media sosial bisa dilakukan usai perjalanan, jadi nikmati saja tripnya biar suasana liburannya maksimal. Hari Minggu sekitar jam 12 siang kami bersiap untuk kembali ke Serang dan kembali menggunakan perahu kecil. Tiba di Serang, kami menyempatkan diri untuk menikmati semangkuk mie ayam di kawasan pertokoan disana, duh, namanya saya lupa. Tapi mie ayamnya enak banget, serius.

Selesai mengisi perut, saya bersiap kembali ke Bandung dan menunggu bis di terminal bayangan. Disebut terminal bayangan karena memang bukan terminal bis yang asli. Hanya sebuah pertigaan di dekat terminal dimana biasanya bis-bis dari luar kota mengambil penumpang. Katanya sih, di terminal Pakupatan ini sepi kalau menjelang malam. Jadi lebih baik menunggu bis di terminal bayangan saja. Saya dan mbak Enny akhirnya tiba di Bandung lagi setelah menempuh perjalanan sekitar 5 jam. Alhamdulillah tidak macet dan kami tiba di terminal Leuwi Panjang tengah malam. Itu cerita tentang keseruan saya di Pulau Tunda. Next, saya mau ceritakan soal trip ke pulau kecil di Makassar. Wait yaaa …

 

2 Comments

  1. evi says:

    Memang indah Pulau tunda ini. Untunglah masih di Provinsi Banten. Jadi kalau Kepengen ke sana nanti tidak jauh dari tempat tinggal saya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *