Curhat Bandung, 20 perempatan Antara Ujungberung – Pasir Koja | Bandung Juara

Pulau Tunda, Pesona Tersembunyi di Utara Banten | Traveling
June 12, 2016
Tambah Penghasilan Dengan Menerima Order Menjahit
June 18, 2016

Curhat Bandung, 20 perempatan Antara Ujungberung – Pasir Koja | Bandung Juara

Antrian kendaraan di ruas jalan Soekarno Hatta Bandung / doc bandungjuara.com

Antrian kendaraan di ruas jalan Soekarno Hatta Bandung / doc bandungjuara.com

Jadi, mulai awal Juni lalu, saya mulai menghabiskan waktu yang cukup panjang di perjalanan dari rumah menuju kantor. Setiap 5 hari dalam satu pekan, saya menghabiskan waktu sekira 4 jam di jalan, pagi dan sore. Ada sekitar 20 perempatan yang harus saya lewati setiap hari dengan waktu menunggu sekira maksimal 10 menit. Kenapa begitu lama? Karena antrian kendaraan yang begitu panjang membuat kita harus tertahan kembali untuk menunggu giliran maju setelah pemberitahuan lampu merah untuk kedua kalinya.

Pagi ini, tanggal 13 Juni 2016, saya memutuskan untuk mencoba menggunakan bus Trans Metro Bandung, dari bunderan Cibiru menuju perempatan Cigereleng Moh Toha. Saya pikir, menggunakan bus bisa menghemat sedikit waktu agar tiba di kantor lebih awal dari biasanya. Hmm, begitu tiba di bunderan, bus ternyata sudah penuh. Ya sudahlah, tanggung sudah di depan mata, akhirnya saya naik.

Berdiri di dalam bus yang penuh orang membuat saya berpikir, betapa harus lebih banyak lagi hal yang disyukuri dalam hidup ini. Berdiri selama hampir 30 menit cukup membuat kaki pegal. Terlebih lagi saat ini kondisi kaki saya sedang tidak baik. Ngilu-ngilu dan memar dimana-mana. Entah kenapa saya juga tidak tahu. Skip deh …

Meskipun harus berjejalan di dalam bus dan berdiri tapi lumayan tidak kegerahan karena bus menggunakan AC.

Ongkos yang dihabiskan

Awalnya, niat saya menggunakan bus itu agar bisa irit ongkos. Jika memanfaatkan angkot dari rumah, maka saya harus naik turun angkot sebanyak 4 kali dengan jurusan yang berbeda. Jumlah ongkos yang saya keluarkan satu kali jalan adalah sebesar 15-16 ribu rupiah. Total ongkos bolak balik satu hari adalah sekira 30 ribuan. Okay …

Kalau naik bus, saya harus menggunakan angkot dulu sebelum akhirnya naik bus. Kemudian turun lagi dan naik dua kali lagi angkot dengan jurusan berbeda. Jumlah ongkos yang saya keluarkan sekira 14-15 ribu satu kali jalan. So, untuk bolak balik saya memerlukan ongkos sebanyak minimal 30 ribuan. Eh, kok gak ada bedanya sih?

Ada dong …

Dibandingkan naik angkot, bus lebih nyaman dan aman karena ber-AC dan tidak banyak pedagang asongan. Juga tidak ada pengamen dan anak punk yang memaksa masuk ke dalam kendaraan lalu meminta jatah makan. Tapi sulitnya, bus ini tidak tersedia banyak. Jadi kita harus menunggu lama untuk bisa naik. Apalagi di jalan kembali ke rumah, Pasir Koja – Ujungberung, kita harus tahan berdiri di pinggir jalan menunggu bus yang lewat entah kapan.

Bagaimana dengan Gojek?

Nah, kalau menggunakan angkutan yangs atu ini terhitung cepat. 45 menit sudah bisa sampai di kantor. Tapi … uang yang harus saya keluarkan untuk satu kali jalan adalah sebanyak 46 ribu rupiah! Bayangkan dalam satu hari, bolak balik, dari rumah ke kantor ke rumah lagi, saya harus menghabiskan uang total 92 ribu hanya untuk ongkos transportasi saja. Ah, sesekali saja deh kalau begitu. Mahal beud hiks …

Hal paling menyebalkan di perjalanan

Alih-alih semua tantangan yang harus saya terjang setiap hari itu, yang paling menakutkan dan menyebalkan adalah bertemu dengan kelompok anak jalanan ala punk yang giat merangsek masuk ke dalam kendaraan umum. Yang mereka lakukan adalah menodong penumpang untuk memberi merek ajatah makan. Walau hanya seribu atau dua ribu tapi rasanya saya tidak rela memberikan uang itu. Mereka minta jatah makan pada setiap orang tanpa berpikir bahwa dengan tubuh yang masih kuat mereka bisa bekerja apa saja untuk mencari sesuap nasi. Tapi hal itu tidak dilakukan. So, saya yang tiap hari berjibaku dengan segala kesulitan demi meraih rejeki rasanya hanya bisa menatap saja melihat kelakukan mereka.

Beberapa waktu lalu, walikota Bandung, Ridwan Kamil, berhasil mengamankan sejumlah anak punk di beberapa titik kumpul mereka. Tapi, sekarang, terutama di jalanan yang saya lalui setiap hari, tepatnya di perempatan Leuwi Panjang, kenapa rasanya jumlah mereka makin menjadi? Kang Emil, saya rela harus naik angkutan umum setiap hari, tapi saya menghimbau agar kelompok anak jalanan yang mengganggu kenyamanan seperti ini diamankan lagi. Akang pasti punya solusinya agar mereka bisa berdaya guna, setidaknya untuk dirinya sendiri.

Pengemis anak-anak yang makin hari makin bertambah di Bandung / doc galamedianews

Pengemis anak-anak yang makin hari makin bertambah di Bandung / doc galamedianews

 

Kang Emil sedang menegur anak jalanan ala punk / doc bandungjuara.com

Kang Emil sedang menegur anak jalanan ala punk / doc bandungjuara.com

Kesimpulan

Jadi, sebenarnya tidak ada jauh beda apakah saya harus menggunakan angkot atau bus menuju kantor dan kembali ke rumah. Jumlah ongkos yang dikeluarkan nyaris sama, dan waktu yang harus ditempuh juga tidak jauh berbeda, nyaris dua jam. Gojek mah menjadi pilihan terakhir. Kalau mepet dan ingin segera tiba di rumah, saya gunakan Gojek.

Solusinya apa atuh? Harus kost, biar deket sama kantor? Atau beli motor ajah dan belajar nyupirin sendiri? Duuh … kedua hal ini masih dilema.

Sampai jumpa di postingan curhat jalanan berikutnya. Bye now …

4 Comments

  1. Yups, beli roda dua, cabe tiga, cikur empat…eh naha

    Setuju, beli motor dan niatkan dalam hati demi ketenangan …

    **DARIPADA CAPE MORIIL CAPE MATERIIL**

  2. Bunda Fariel says:

    Kalo menurut saya…jaman skrg apalagi hidup dikota besar, kendaraan roda 2 mmg sangat penting
    Selain bisa cepat sampe tujuan (krn kalo motor kan bisa nyelip2 di macetan ), jg lbh irit ongkosnya

  3. astrinovia says:

    Iyah bun, saya teh pernah ketabrak jadi masih agak trauma. Apalagi kalo denger suara klakson kenceng heuu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *