Bagaimana Cara Memakai Kondom? | Parenting

Dimsum Enak di Bandung Dimsum Choie | Kuliner Bandung
May 27, 2016
Enhance Your Digital Lifestyle | Techno
May 27, 2016

Bagaimana Cara Memakai Kondom? | Parenting

matthewmorris.org

Orangtua yang baik adalah mereka yang mampu menyediakan jawaban mendidik untuk anak, termasuk mengenai seks -Anovia

Ada satu kejadian menggelitik sore ini, ketika saya dan Haaken berada di minimarket dekat rumah. Waktu itu kita berdua baru selesai menghabiskan masing-masing satu mangkuk bakso di kedai bakso langganan. Kami berdua sama-sama belum mandi. Maklum, karena dekat dari rumah jadi malas lebih mendominasi ketimbang keharusan mandi sore. Hehe …

Ada satu hal yang selalu mengganggu Haaken setiap harinya. Selalu saja kepikiran oleh bocah berbadan bongsor namun lugu itu. Apa sih? Ituu … rambutnya.

Hm .. rambut?

Ada apa dengan rambut Haaken? Jenis rambutnya yang lurus, sangat lurus hingga sulit untuk dibentuk, menjadi masalah buat dia. Haaken selalu kepingin rambutnya basah agar bisa mudah diatur dan tidak jocong ke depan ataupun rancung ke atas. Ribet banget, deh. Padahal menurut emaknya, penampilan dia itu udah sangat sempurna. Cakep banget pokoknya. Ya iyalah, emaknya gitu yang ngomong.

Oia, kejadian lucunya bukan tentang rambut, melainkan tentang kondom.

Owh … AADK (Ada Apa Dengan Kondom?)

Jadi, setelah menghabiskan bakso terakhir bagian saya, Haaken bilang ingin mampir ke minimarket dulu sebentar. Dia ingin membeli jel rambut atau pomade, atau apalah yang sejenis yang digunakan untuk mengatur rambut. Baiklah, saya mengiyakan. Karena memang biasanya dia membeli jel tiap bulan.

Tak lama, kami berdiri di depan rak kosmetik pria. Disitu ada beragam jenis jel rambut, shampoo, sabun, cologne, dan roll on. Haaken melihat-lihat dengan seksama sambil bertanya-tanya.

“Mending yang mana, mom? Yang merah atau biru?” jarinya menunjuk satu merek jel rambut.

“Ah, yang mana aja juga sama aja, yang. Yang penting kan bisa diatur rambutnya,” jawab aku nahan tawa.

Tiba-tiba mata Haaken tertuju pada rak yang berada tepat di atas rak jel rambut itu. Disitu berderet rapi berbagai merek dan nama produk pengaman untuk pria alias kondom. Lalu, bermunculan pertanyaan-pertanyaan yang bikin hati emak degdegan.

“Mom, Fie*ta itu apa, sih? Kondom teh naon?” tanyanya dengan wajah yang datar tanpa ekspresi.

“Eerr … itu mah buat laki-laki dewasa, yang,” jawabku sambil sedikit sport jantung. Dalam hati, “Duh, udah dong nanyanya segitu aja cukup, ya? Ya?”

Ternyata bocah kelas 4 SD ini masih penasaran.

“Oh, Aken juga kan laki-laki, mom. Itu teh dipake, gitu? Kayak celana?” dia nyerocos terus gak ngasih emaknya kesempatan buat menjawab.

“Enggak, yang. Itu mah dipakainya dalam situasi tertentu ajah.” *degdegan lagi

“Oh, berarti mirip kayak boxer meureun ya, mom?” matanya menyelidik.

Kali ini aku ingin menjawab dan menyudahi percakapan yang tidak pada tempatnya ini, “Bukaaan … bukan boxer, bukan celana juga, sayang. Itu mah dipakainya ketika ….”

Belum sempat aku menjelaskan panjang lebar, mata Haaken keburu melirik mainan yang dipajang di sebelah rak kiri. “Ah, mom, aku pengen mainan ini, boleh?”

Alhamdulillah, mainan mengamankan degup jantungku yang berlari kencang haha …

www.idchealth.org

 

Sekilas, semua pertanyaan Haaken itu hanya sepele, tapi seorang ibu harus siap dengan jawaban yang mudah dipahami dan mendidik. Pertanyaan yang spesifik seperti itu jika tidak dijawab secara ilmiah maka anak bisa salah paham. Hal-hal seperti ini yang mungkin juga dialami oleh ibu-ibu lain yang mempunya anak seumuran dengan Haaken.

Berkaca dari maraknya peristiwa pelecehan, bahkan hingga penghilangan nyawa orang lain karena latar belakang seks sungguh membuat hati ini sakit. Memiliki anak laki-laki atau perempuan sama saja. Jika orangtua tidak mawas diri dan terlibat dalam keseharian anak, maka bukan tidak mungkin kita bakal kecolongan.

Kali ini saya belum siap dengan jawaban dari pertanyaan semacam yang dilontarkan Haaken. Nanti saya harus meluangkan waktu untuk sekedar berbincang berdua, membicarakan hal yang berhubungan dengan pendidikan seks. Saya ingin Haaken paham benar apa yang harus dia lakukan dan jauhi dalam lingkup tersebut.

Saya percaya, anak adalah tiket bagi kita menuju surga.

Kepribadian, tingkah laku, dan karakter yang ditunjukkan oleh anak merupakan cerminan dari pendidikan yang kita berikan di rumah. Tidak ada salahnya sesekali kita membicarakan soal seks, dalam lingkup yang sewajarnya tentunya. Tujuannya adalah agar anak mengerti dan paham dengan apa yang benar dan salah. Karena bagaimanapun, anak terus bertumbuh besar. Dia bakal menyerap berbagai informasi dari lingkungan luar. Akan lebih baik jika kita bentengi dulu anak dengan informasi yang membuatnya nyaman, yaitu pendidikan dari kita, orangtuanya. Insya allah anak tahu kemana dirinya harus berjalan di arah yang benar, amiin.

8 Comments

  1. Ini artikel tidak utk tujuan.apapun, lomba atau kampanye ?

    Iya daripada tau dari luar rumah lebih baik berilmu pengetahuan dari dalam rumah.

    Panuju lah

  2. Kochens says:

    Hahahaha… Aken, lain kali nanya nya lebih kepo lagi ya ke Momy nya!

  3. Nia Haryanto says:

    Aduuh… Yang begini tah yang bikin susah jawab teh. Dijawab asa ‘jorang’. Gak dijawab takut nyari tahu sendiri. Huaaaa… Kumaha atuh? Saya belom siap ditanya yang beginian..

    • astrinovia says:

      Makanya tadi juga degdegan pisan, kudu jawab apa ya wkwk

      Untung weh dia liat mainan, dan sampai malam ini gak inget lagi sm pertanyaan tadi hahaha

  4. noniq says:

    Ini judulna cukup SEO pisan untuk kategori dewasa lho teh, hahahah….. Saya aja langsung klik wkwkwkw…..

    Coba Aken besok tanya lagi donk, sampe dijawab beneran, wkwkwkw…

    • astrinovia says:

      wkwkwk gw aja bingung mau jawab apa ih … Nanti lagi aja deh nanyanya kalau emaknya dah siap hahahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *