Mengatasi Sikap Kasar Anak Dengan Fokus Perilaku Bukan Emosi

Kopdar Seru dan Nikmatnya Sirloin Steak di Sarang Lebah Beehive, Bandung
April 26, 2016
Cara Mudah Investasi Reksa Dana Dengan klikMAMI
May 1, 2016
Me and my big boy Haaken

Me and my big boy Haaken

Postingan kali ini beda dari biasanya. Karena saya termasuk jarang menulis tentang tema parenting. Tapi, disini saya hanya ingin berbagi pada para ibu di luar sana tentang perubahan perilaku pada anak. Apa penyebabnya dan bagaimana mengatasi kondisi tersebut. Meskipun kondisi setiap keluarga berbeda, tapi mungkin ada kesamaan yang bisa menjadi gambaran atau motivasi untuk menjadi orangtua yang lebih baik lagi ke depannya.

Kalau mengingat diri sendiri pernah berucap, “Kamu kenapa sih, nak? Kenapa melakukan hal seperti itu pada ibumu?” atau “Kamu bikin aku gila, gak ngerti lagi, deh,” mungkin kita terlalu mengambil hati ucapan seorang anak. Jika sudah seperti itu, bisa muncul asumsi buruk mengenai anak kita sendiri. Dengan kata lain, kita mulai percaya bahwa si anak tidak lagi mau mendengar perkataan apapun dari orangtuanya, meskipun padahal sebenarnya tidak seperti itu.

Bingung ya? Apalagi untuk orangtua tunggal seperti saya. Bingungnya dobel. Ada banyak hal yang melatarbelakangi anak untuk bersikap seperti itu dan alasan-alasan itu tidak semuanya kita ketahui. Sama halnya dengan saat kita menggerutu ketika jalanan macet, atau bereaksi lebay saat anak berperilaku tidak seperti yang diharapkan.

Anak saya, laki-laki, berusia 10 tahun, belakangan ini sedang tidak berminat sama sekali untuk membuka buku atau belajar. Yang dia mau hanyalah bermain di luar rumah sejak pulang sekolah hingga menjelang magrib nanti. Nilai-nilainya di sekolah menurun cukup drastic. Bagi sebagian orangtua, penurunan nilai seperti ini dianggap memalukan, tapi bagi saya, biasa saja. Mungkin anak sedang dalam masanya seperti itu. Mungkin. Meski biasa saja tapi tentu saya terus memantau dan mengawasi perkembangan anak.

“Cara yang lebih efektif untuk mengatasi situasi seperti itu adalah dengan fokus pada perilaku anak, bukan perasaan anak atau kita.”

Kadang saya berpikir kalau anak saya bahkan tidak peduli sama sekali pada perasaan saya, ibunya. Mungkin saja benar, tapi ternyata juga salah. Ketika saya akan berangkat ke luar pulau kemudian berpamitan pada anak saya, malam itu dia menangis sejadi-jadinya, mengatakan agar saya tidak usah pergi. “Nanti gak ada mamih rasanya gak enak, mih. Jangan pergi, mih …” hati saya trenyuh mendengar ucapannya. Ternyata saya salah, ternyata anak saya membutuhkan ibunya ada di dekat dia. Tapi bagaimanapun saya harus berangkat, dan acara pamitan menjadi sangat panjang karena saya marus meredakan tangis dan menenangkan dirinya sebelum benar-benar berangkat.

Belakangan ini, anak saya sepertinya sedang sedikit bermasalah. Maksud saya, sikap dan perilaku anak berubah banyak. Nilainya di sekolah menurun drastis. Di rumah, dia seperti tidak berkeinginan untuk belajar ataupun hanya sekedar membaca atau membuka buku. Bukan hanya buku pelajaran, tapi buku apa saja yang sebelumnya bisa membuatnya tertarik kini tidak lagi.

Anak lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Banyak sekali hal yang dia lakukan di luar, seperti main sepeda mulai dari pulang sekolah hingga menjelang magrib baru ingat rumah. Makan tetap banyak namun tidak lagi teratur, karena setiap kali mau makan dia selalu dalam kondisi terburu-buru, takut ditinggalkan teman-temannya main.

Mungkin aktif di luar rumah seperti itu bagus ya dibandingkan hanya duduk di depan teve bermain game atau mantengin gawai seharian. Tapi, ada hal lain yang membuat khawatir yaitu perubahan pada lisannya. Ucapannya menjadi kasar, temperamen, tendensius, dan kerapkali so dramatic. Hanya mengingatkan dia untuk mandi sore dengan bersih saja bisa menjadi petaka. Jawabannya histeris, penuh teriakan, kadang mengiyakan sambil merusak barang. Lalu mandi dengan gurunggusuh –terburu-buru, bhs Sunda- tanpa memperhatikan kebersihan badan dengan baik. Asal air membasahi badan sedikit itu sudah bisa disebut mandi.

……………….

Ada beberapa aturan yang diterapkan terlalu ketat atau longgar bagi anak dan nyatanya kedua cara ini tidaklah efektif untuk membuat anak mau mendengar ucapan orangtua. Analoginya begini: jika terlalu ketat, maka anak tidak diberi kesempatan untukmembuat keputusan sendiri. Bagaimana anak tahu caranya membuat keputusan yang benar jika tidak ada yang memberitahu dia caranya? Kalau aturan terlalu longgar juga tidak baik. Anak hanya akan memiliki batasan kecil yang mampu membuatnya melihat cara yang baik untuk berperilaku.

Saya bukan pendidik yang ahli secara akademik tetapi beberapa ahli mengatakan bahwa ada beberapa hal yang bisa dilakukan saat kita menghadapi anak yang sedang menguji emosi orangtua.

Tarik nafas

Sebelum marah dan tidak terkendali, coba pejamkan mata sejenak, lalu Tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan perlahan, lalu duduk dengan tenang. Lakukan selama beberapa kali. Kenapa harus seperti ini? karena focus pada bernafas akan mengalihkan kita dari emosi. Cara ini bagi saya cukup efektif.

Katakan tidak suka

Coba katakan pada anak, “Bicara seperti itu tidak bagus, nak. Ibu tidak suka.” Setelah itu tinggalkan ruangan dan pastikan saat bicara dalam keadaan kalem, tenang, dengan nada santai, tapi tetap serius.

Ingatlah siapa yang lebih dewasa

Nah ini. kadang sebagai orangtua kita suka lupa bahwa yang lebih dewasa adalah kita. Jangan lupa kalau kita sedang berususan dengan orang yang belum cukup dewasa dan berpengalaman dibandingkan kita. Anak akan berbuat kesalahan, impulsive dan mengatakan hal yang tidak seharusnya, tapi itulah mereka, anak-anak. Kita yang lebih dewasa, bukan mereka. Hiks, saya juga kadang lupa.

Bukan tentang kita

Ada ahli yang menyebutkan bahwa ketika anak berteriak dan mengucapkan kalimat kasar, itu tandanya mereka sedang berjuang dengan kebutuhan atau batasan dirinya sendiri. Jadi, meskipun perilaku buruk itu diarahkan pada kita, tapi sebenarnya bukan tentang kita. Tapi, tentang mereka sendiri. Yah, sulit juga untuk bisa menerima ini, karena terkadang perilaku kasar anak begitu menohok hati.

Fokus

Sebelumnya tadi sudah disebutkan untuk focus pada perilaku bukan emosi. Jadi alih-alih bertanya pada diri sendiri kenapa anak tidak mau menurut perkataan orangtua, lebih baik memikirkan perilaku anak mana yang bisa berubah. Saya seorang ibu tunggal yang bekerja dan saya paham bahwa terkadang anak bersikap kasar pada kita Karen amencoba mencari perhatian kita. Memang sulit untuk tidak focus pada emosi tapi hal ini layak dicoba. Focus pada perilaku anak bukan lainnya.

Cari tahu penyebabnya

Perilaku anak yang mana sih yang paling membuat orangtua mudah emosi? Apa saat anak menyumpah, membanting pintu, atau mengutuk? Coba cari tahu mana yang paling memicu emosi kita? Kenapa harus? Karena menurut para ahli, kesadaran akan situasi adalah setengah dari perjuangan, setengahnya lagi adalah mempunyai rencana apa yang akan dilakukan ketika tombol emosi itu tertekan dan berwarna merah.

Yang paling penting adalah menyadari bahwa anak punya dunianya sendiri. Mereka keluar dari sana untuk belajar, melakukan banyak hal baru, berteman, dan banyak lagi. Anak pasti mencintai kita orangtuanya tapi kita bukanlah segalanya. Makin bertumbuh anak maka makin berkurang kebutuhan mereka akan kehadiran orangtua. Benar bukan? Semakin besar anak, mereka akan memiliki acara sendiri, kegiatan bersama teman-teman dan beraktifitas. Menjadi orangtua adalah keseimbangan antara berpikir dan perasaan, dan keduanya berperan sangat penting. Menjadi orangtua adalah pekerjaan yang tiada habisnya.

Insya allah saya bisa menjadi orangtua yang lebih baik lagi, buatmu anakku sayang, Haaken.

 

3 Comments

  1. Bunda Fariel says:

    Nice posting
    Aku sll suka dgn postingan masalah parenting, mengingat gak mudahnya mendidik & mengarahkan anak menjadi pribadi yg baek & sukses

    Sukses terus ya Teh, I love your blog

    • astrinovia says:

      Makasih udah baca ya Bunda Fariel. Seneng deh dikunjungi hhee. Amiinn yra makasih doanya

      Btw, maaf janjiku tertunda terus, lagi roadshow bun, maafkan yah, tapi aku inget kok 🙁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *