“ Teeehh..jam setengah sepuluhhh…!!” Ibu teriak dari lantai bawah.

“Iyaa buuu…” sahutku. Bergegas aku bangkit dari leyeh-leyeh di tempat tidur “Gubraaak,,,duh sakit nih. Dasar pintu sial, kenapa ngalangin, sih?” gumamku. Aku sebenarnya sudah bangun dari setengah jam yang lalu. Rasanya tidak sabar untuk memulai perjalanan yang selalu kuimpikan selama ini. Jantungku deg-degan tidak karuan.

Dengan sedikit malas aku bangun dan beranjak dari tempat tidurku. “Aku akan pergi dulu ya kasurku, kamarku, teman-temanku yang ada di poster..” kataku pada semua barang-barang yang ada di kamar. Aku akan meninggalkan mereka sejenak dan merasa harus berpamitan meski sebenarnya tak perlu.

Setelah beres mandi dan berdandan secukupnya, ibu berkata, “ Teh, gak lupa kan barang-barang yang mau dibawa?”

“ Sudah siap semua, Bu..”  kataku.

“ Bagus lah kalo gitu..” balasnya.

“ Bu, aku pergi dulu ya, doakan aku semoga selamat sampai tujuan..”

“Iya, pasti, nanti begitu sampai, kabari ibu dan bapak ya..hati2..jangan macem-macem ya..kalo masuk angin, minum antangin, bawa kan? Jangan sok kuat, bawa permen mint kan? Siapa tahu tiba-tiba mabuk  perjalanan kan? Buat di pesawat, makan saja apa yang ditawarkan yang penting tidak haram, biar ga masuk angin, terus..teruss..terusss…” ibu tidak melanjutkan lagi, tapi kulihat dia mengeluarkan sedikit air matanya. Mungkin karena khawatir anak perempuannya akan berpergian jauh. Sendirian lagi.

Aku terus mendengarkan dan meng-iyakan anjuran dan pesan-pesannya. Agar ibu tidak khawatir. Sebagai anak yang berbakti dan untuk menenangkan hatinya, aku berkata, “ Iya bu, pasti. Assalamualaikum..”

“Waalaikumsalam…”

“Hati-hati yaaa….” Sekali lagi ibu berkata hati-hati sambil melambaikan tangannya. Aku membalas lambaiannya. Kaki sudah melangkah beberapa meter dari rumah tapi aku ingin menolehkan pandanganku lagi pada wanita terbaik di dunia. Kemudian aku kembali padanya, dan memeluknya erat.

“ Dah ibu….”

“Daaah…..jaga diri baik-baik.”

“Oke, pasti.”

Karena berbagai alasan dan keperluan, aku pergi sendiri dari Bandung ke bandara Soekarno Hatta. Tidak ada yang mengantarku. Tapi sebelumnya keluarga sudah mengadakan acara farewell party untukku kemarin. Aku sih tidak begitu suka dengan acara seperti itu, tapi menghormati kemauan ibuku adalah penting. Satu lagi yang tidak kusukai, dengan ada acara seperti itu, maka pesanan oleh-oleh ini itu tak akan luput dari perhatian kerabatku.

Aku malas berurusan dengan hal seperti begitu. Aku mengambil bis yang berangkat jam 13 siang. Kemungkinan sampai di bandara jam 4 sore. Mudah-mudahan tak terkena macet dan tidak perlu menunggu begitu lama di bandara. Tapi, menunggu lama di bandara lebih baik daripada terlambat dan ketinggalan pesawat. Jangan sampai terjadi seperti itu. Karena perjalanan ini adalah yang pertama kalinya bagiku, maka aku mencari jalan aman saja.

Hai. Aku Novia Safitri. Panggil aku Via. Tahun ini aku berusia 26 tahun. Aku gadis yang ramah, easy going, senang bergaul dan cinta mati dengan eksplorasi ke berbagai tempat di dunia. Aku akan bekerja sebagai Aupair di rumah salah satu keluarga Spanyol.  Hal ini kulakukan sebagai salah satu cara untuk mewujudkan mimpi terbesarku sejak kecil. KELILING EROPA.

Dan sekarang aku bisa mewujudkannya. Sujud sukur tentunya.

Perjalanan ini sudah kusiapkan selama berbulan-bulan sebelumnya. Setelah mengurus segala dokumen dan keperluan surat-surat penting akhirnya aku bias mendapatkan visa tinggal di salah satu negara Schengen. Karena aku dating kesana dengan menggunakan visa aupair maka aku bisa pergi dengan tiket pesawat return. Keluarga angkatku yang membiayai tiket pesawat ini. Menjadi seorang aupair tidak semudah yang dibayangkan. Aku mendapatkan pekerjaan ini dengan surfing dan mengajukan langsung pada keluarga disana melalui internet. Tanpa melalui agen atau instansi lain. Banyak yang ingin mendapatkan kesempatan sama seperti aku, makanya aku bangga bias menjadi salah satu yang berhasil mendapatkan keistimewaan ini. Aku tak keberatan bila ada orang yang menyebutku sebagai seorang tenaga kerja Indonesia. Apa salahnya? Toh, semua orang bekerja kan? Niat dan kejujuran dalam bekerja ini yang nantinya akan membantu dan memudahkan segala masalah yang menghadang. Aku bersyukur, selama itu pula keberuntungan selalu menyertaiku. Aku ingin pelaksanaan rencanaku tak ternoda oleh masalah besar sebelum berangkat. Aku ingin semuanya sempurna, meski tak mungkin seperti itu. Karena kesempurnaan hanya milik Tuhan.

Spanyol adalah negara dimana aku akan bekerja dan berada selama setahun setengah. Mengapa memilih negara ini sebagai tujuan, alasannya sederhana saja, jujur aku penggemar berat FC Barcelona. Dan disini pula aku punya keluarga istimewa yang selalu kurindukan setiap saat. Lima tahun yang lalu, kakakku melancong pertama kali sendirian ke Spanyol dalam rangka pertukaran budaya dan eksebisi kesenian tradisional. Mereka sekeluarga juga sudah pernah mengunjungi Indonesia dan cukup dekat dengan keluargaku. Jadi kutetapkan Spanyol menjadi negara tujuan. Setelah menyelesaikan tugas dan pekerjaanku, ada rencana yang ingin kulaksanakan sebelum kembali pulang ke Indonesia, yaitu bertualang ke beberapa kota besar di negara-negara Schengen. Rencana perjalananku cukup panjang :

  • Perancis
  • Belgia
  • Jerman
  • Inggris
  • Rusia
  • Italy
  • Dan berakhir kembali di spanyol.

Kenapa negara-negara itu yang dipilih? Selain berada di daratan yang sama, aku juga berencana melakukan perjalananku secara backpacking. Aku punya banyak teman di setiap negara yang kusebutkan tadi. Aku akan menyisihkan sebagian dari gaji yang kuterima untuk melakukan perjalanan berkeliling Eropa. Tentunya perjalanan itu akan kulakukan setelah menyelesaikan perjanjian kerjaku. Dari rumah aku hanya berbekal uang satu juta saja. Uang itu hanya untuk keperluan mendadak atau untuk jaga-jaga di perjalanan. Kupikir semua dokumen sudah lengkap dan beres maka aku tidak perlu khawatir lagi. Saat melaksanakan rencanaku nanti, semua teman yang kukenal bisa menolongku menyediakan akomodasi gratis dan mengajakku jalan-jalan. Ya, mudah-mudahan saja semua negara yang telah kurencanakan untuk kudatangi bisa terwujud. Meski pada akhirnya tidak semua negara bias dikunjungi tetapi aku bersyukur bias mewujudkan sekitar 80 persen dari rencanaku dan pada akhirnya, kondisi financial, tenaga serta waktu yang akan menentukan semua itu.

Dua bulan sebelum pergi, aku sudah menghubungi semua temanku yang ada di setiap negara di Eropa. Di spanyol (Barcelona) ada Marta torrent, salah satu sahabat berbeda ras yang terbaik. Meski pertemuanku dulu tidak dalam jangka waktu yang cukup panjang, tapi kebersamaan bersama keluarganya di Indonesia telah menorehkan rasa yang begitu dalam di hatiku. Mereka sangat baik, sampai aku berpikir orang bule juga bias memiliki nurani yang bersih dan menganggap kita sahabat tanpa melihat darimana asal serta kelas kita. Aku begitu cinta pada keluarga Torrent, kuanggap mereka keluarga keduaku.

Lanjut: Perjalanan menuju Benua Biru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *