Kiblat Cules, Tour Di Stadium Camp Nou
June 9, 2012
Lesson 9 / Frase pendek
July 6, 2012

Lewis B. Smedes

“Forgiveness is God’s invention for coming to terms with a world in which, despite their best intentions, people are unfair to each other and hurt each other deeply. He began by forgiving us. And he invites us all to forgive each other.”

Rasanya hidupku sekarang ini seperti melayang di atas awan. Bukan awan putih yang menawan dan membahagiakan tetapi awan hitam, kelabu, penuh petir dan siap menumpahkan semua isinya ke bumi. Penyesalan selalu datang terlambat seperti orang terkena macet di jalan. Andai kita tahu terlambat berbuah penyesalan mungkin di tengah perjalanan kita akan berhenti lalu berbalik kembali ke rumah.

Tenaga ini luruh seperti kotoran badan yang disapu scrub pembersih kulit. Dalam pandangan, air sumur meluap. Selalu tumpah setiap kali ember penuh air itu tersenggol angin. Setiap keburukan yang diterima harus dicamkan dengan baik ke dalam benak bahwa keburukan yang lebih dari itu pernah ditumpahkan pada orang tersayang layaknya dua merpati memuntahkan kotoran dari atas langit langsung ke wajahnya yang mendongak.

Maaf mungkin bukan kata yang ingin didengar olehnya saat ini. Manusia selalu lupa dan berbuat salah sepanjang hidupnya. Satu kali bisa dimaklumi tetapi dua kali adalah stupidity yang dibuat-buat. Harga diri seakan dibanting jatuh dan tak bergerak entah untuk berapa lama. Mereka yang selalu ingin dipuji adalah manusia tanpa karakter dan tak punya jati diri. Pesan yang begitu menohok ulu hati.

Benak ini masih belum merangkul pemahaman bahwa pada akhirnya manusia akan mati. Tanpa membawa apapun kecuali amal ibadah kepada Tuhan. Apa artinya ketenaran, kepopuleran, kepintaran serta kekayaan dan gemerlapnya dunia dibandingkan keabadian nan rupawan di dunia setelah mati nanti. Entah aku tak tahu apa kubisa mencapai mimpi, menggapai nirwana nan abadi.

Kesombongan bisa membuat orang kuat, tapi juga bisa melumpuhkan syaraf kesadaran dirinya. Orang sombong yang kuat bisa menghadapi kerasnya perjuangan hidup tanpa bantuan orang lain karena dia tahu dia punya potensi yang bisa digunakan untuk bertahan hidup. Orang sombong yang kehilangan syaraf kesadarannya adalah orang yang menyakiti keluarga, belahan jiwa dan orang di sekitarnya dengan perilaku yang menurutnya benar padahal omong kosong belaka.

Tuhan, sejauh yang kuingat. Dalam tiap doa yang kupanjatkan, aku hanya ingin diberikan takdir yang baik dengan jalan hidup tanpa neko-neko. Tapi kenapa ujian seberat ini kau limpahkan padaku. Fisikku rapuh dan sekarang mentalku mengikuti pasangannya, rapuh bak rangkaian porselen retak yang telah susah payah dilem kembali.

Tuhan, kau sadarkan diriku bahwa aku telah berlaku sombong di depanMu. Berpikir bahwa semua hal bisa diatasi sendiri. Lupa bahwa tak ada kesempurnaan nyata di dunia buatanMu ini. Kau sentil aku dengan jentikan ujung jariMu. Membuka mataku bahwa satu-satunya harta paling berharga di dunia ini adalah keluarga yang saling mengasihi dimana dalam setiap mentoknya jalan hidup, di sanalah kita kan kembali. Tak ada yang senyaman dan sehangat pelukan keluarga sendiri.

Tapi aku, menghancurkan semua itu dalam sekali hentakan seperti tokoh Hulk dalam tim Avengers yang meremukkan sepasukan Chitauri dalam satu kali ayunan tangan. Bisakah semua kekacauan ini Kau satukan kembali, meskipun diri ini harus merangkak dan mengais setiap potongan yang tercecer agar kembali menjadi satu.

Tuhan, tolong tunjukkan jalanMu. Seperti dalam doa-doaku sebelumnya, aku hanya ingin Kau tunjukkan yang terbaik untuk keluargaku. Tuhan, terimalah doa seorang manusia durhaka yang meminta pengampunanMu. Engkau Maha Pengasih, Penyayang, dan Maha Memaafkan. Terimalah doa hambaMu yang hina ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *