Astrinovia.com

new book in 2011

Eropa

Siapa yang tidak kenal dengan daratan yang dipenuhi bangunan berarsitektur antik ini. Satu benua dengan segala daya tariknya yang selalu mengundang hasrat banyak orang untuk menginjakkan kaki disana. Saya termasuk salah satu dari sekian banyak penggemar benua Eropa. Siapa tak kenal dengan menara Eiffel, serunya festival atau naik balon udara di Paris, atau suasana Spanyol yang eksotis? Siapapun yang pernah singgah disana tentu ingin kembali lagi suatu saat nanti. Begitu juga dengan saya. Berbagai usaha dilakukan untuk meraih mimpi tinggal di negara yang memiliki kebudayaan dan kebiasaan berbeda. Proses meraih mimpi itu menuangkan sensasi yang menambah citarasa dalam setiap pengalaman hidup yang dilalui.

Buku ini adalah kisah saat berkesempatan tinggal di negara empat musim selama satu tahun setengah lamanya. Bagaimana cara saya bisa sampai kesana? Apakah benar dengan uang sejumlah tiga juta bisa mengelilingi lima negara dalam satu waktu? Perjuangan tak pernah terhentikan oleh berbagai kesulitan hidup yang menerpa bagai angin kencang. Bepergian ke negeri asing, sendirian, pertama kali, menjadi suatu anugrah yang terus saya syukuri hingga kini.

Pandangan orang yang menganggap orang Eropa tidak ramah dan seringkali sinis terhadap kita yang berasal dari negara berkembang tidak saya alami. Hampir semua orang yang ditemui disana ramah dan welcome menyambut saya. Kadang juga hal itu membuat saya berpikir lebih dalam.

Ada apa dengan wajah dan gerak tubuh saya? Kenapa banyak orang asing yang justru menawarkan bantuan disaat orang lain memutuskan untuk kembali ke kampung halaman karena merasa tidak diterima dengan baik oleh warga disana. Semua itu saya sebut keberuntungan atau luck. Alhamdulillah, kemanapun saya pergi di daratan nun jauh disana, keberuntungan selalu menyertai bagikan bayangan diri. Meski begitu bukan berarti tidak ada kesulitan yang menghadang. Kesulitan selalu hadir, hanya tergantung bagaimana kita menyikapi hal itu sehingga bisa berubah menjadi sesuatu yang positif dan mendorong semangat bertahan hidup tanpa sanak saudara di negeri orang.

Bahasa yang dituturkan dalam buku ini sederhana saja, seperti kata backpacker senior saya, Elok Dyah Meswati, tulisan dalam buku ini mudah dipahami. Pasti penasaran bagaimana seorang anak gadis berjuang dan meruntuhkan tembok tebal penghalang jalan pulang ke pangkuan ibu pertiwi? Apakah akhirnya dia bisa mengatasi hal itu dan bisa kembali menginjakkan kaki di tanah Indonesia nan subur ini?

Jangan lewatkan kisahnya, pasti seru dan terharu biru.
Segera di bulan Januari.
Astri Novia, Writer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *