Seperti Kata White Lion, Till Death Do Us Part

Keajaiban Sholat Dhuha
September 23, 2010
Dia Yang Tak Boleh Disebut Namanya
September 23, 2010

Seperti Kata White Lion, Till Death Do Us Part

Ketika itu, aku baru saja berpisah dari tujuh tahun pacaran dengan seorang lelaki yang kukenal sejak SMP dulu. Kupikir kala itu adalah masa tersulit dalam perjalanan hidupku. Maklum, aku masih muda, penuh semangat dan sulit meredam keingintahuan yang meluap-luap tentang segala hal dalam hidup. Rapuh, teman-teman menyebutku begitu. Tumpukan kalori di tubuhku mendadak menyusut hingga 10 kilogram, Aku tak merasakan perubahan itu, hanya mereka yang sayang padaku mengatakan hal itu. Setelah melihat dan memandang tubuhku cukup lama di depan cermin, aku baru sadar bahwa mereka berkata benar. Tentu saja aku tak ingin terpuruk berkelanjutan. Hidup adalah pilihan dan kita adalah arsitek dari kehidupan yang kita jalani masing-masing. Maka, aku harus menentukan hidupku dengan berani.
Tak lama setelah aku berhasil melupakan mantan pacarku itu, mataku melihat pancaran sinar menarik dari sepupu jauhku. Ternyata, memang dia juga suka padaku. Karena ikatan kekeluargaan kami begitu sulit untuk dijabarkan, dalam artian ikatan persaudaraan kami cukup jauh dan DIBOLEHKAN untuk menjalin hubungan cinta, maka kami memutuskan untuk berpacaran. Namun, masa ini tidak sama. Kenangan akan masa lalu dan kewaspadaan untuk tidak lagi mengulang kesalahan membuat hubungan kami terasa hambar. Meskipun, kami berdua tahu bahwa kami saling menyayangi. Tetapi semakin lama perasaan ini semakin menggantung. Aku merasa dia hanyalah seorang sahabat yang bias mengerti diriku tetapi tak membuatnya cukup untuk menjadi calon pemimpin dalam keluarga bersamaku. 
Hari Minggu, dia baru kembali dari acara kemping di pegunungan bersama teman-temannya. Dia menelepon dan memintaku untuk datang. Dia bilang, “Aku kangen kamu.” Karena sudah cukup lama tak bertemu, kuputuskan untuk mengunjungi rumah bibiku –notabene, ibunya pacarku ketika itu- Hatiku merasa lega dan senang karena bisa bertemu muka lagi dengannya. Perasaan seperti ini membuatku bingung. Di satu waktu aku merasa sangat sayang layaknya seorang pacar namun di satu waktu yang lain, aku tak ingin berjalan bareng dengannya. Saat kami berjalan bersama untuk sekedar menghabiskan waktu luang, rasa aneh dan risih selalu melingkupi diriku. Ah, memang tak bisa diteruskan bila perasaanku terus seperti ini. Mungkin, dia bukan soulmate untukku meski aku merasa nyaman mencurahkan semua isi hatiku padanya.
Mataku kemudian tertuju pada seorang temannya yang saat itu sama-sama baru pulang dari kemping. Kuperhatikan, badannya tinggi besar, rambut lurus, mata sipit, bibir penuh yang seksi dan…..dia tampak macho ! Setidaknya untukku dia terlihat begitu. Aku suka melihat penampilannya saat itu. Sepupuku mengenalkan aku padanya. Malu-malu aku menyodorkan tangan dan dia menjabat erat tanganku sambil menyebutkan namanya, “ Aku, Iman!” Pendek, singkat dan jelas. Setibanya di rumah, aku tak bisa melupakan wajah itu. Aku suka saat dia bicara dan aku suka dengan sikap cueknya yang tidak sama seperti lelaki lain ketika bertemu seorang perempuan. Kebanyakan dari mereka selalu menebar pesona dan karismanya. Tapi, tidak dengan dia. Seminggu berlalu, sepupuku memintaku untuk kembali dating ke rumahnya. Dia bilang, ada acara kumpul-kumpul bersama banyak teman dan mereka mengadakan acara barbeque. Aku tentu saja senang dengan acara seperti ini maka aku memutuskan untuk dating.
Tiba di rumah sepupuku, aku menghabiskan waktu bercengkerama dengan banyak orang dan menikmati makanan yang tersedia. Acara itu berjalan sangat menyenangkan. Namun tanpa sadar, aku selalu mencari sosok lelaki yang waktu itu pernah berkenalan denganku. Tak tahan dengan rasa penasaran ini, aku bertanya pada sepupuku, “ Temanmu, Iman, kemana dia? Kok, tidak datang?” Sepupuku, yang waktu itu masih berstatus sebagai pacar, menjawab, “Ah, ternyata kamu tertarik sama dia, ya?” “ Kamu tidak salah, setelah berkenalan waktu itu, Iman juga menanyakan kamu terus. Mungkin kalian memang saling suka. Aku sudah undang dia dan mungkin dia akan datang. Tapi sepertinya dia akan datang telat. Kamu tunggu saja, ya?” Sepupuku kemudian menggenggam jari tanganku dan memberikan senyjman penuh arti. Dia menatapku dengan lembut dan penuh keikhlasan. Aku tahu apa arti tatapannya itu. Aku mengerti. Kami putus ! Tanpa kata-kata dan pertikaian, kami berdua memutuskan untuk kembali berhubungan sebagai sesama saudara. 
Menjelang malam, Iman datang. Aku yang sedang gelisah merasakan detak jantung yang semakin cepat saat kulihat sosok lelaki tinggi besar berjalan mendekati keramaian di rumah sepupuku ini. Akhirnya dia datang juga. Jujur, getar hatiku semakin kencang saat dia ada di dekatku. Hingga sekarang aku selalu merasakan hal sama. Sejak kali kedua kami bertemu, frekuensi pertemuan kami menjadi semakin dekat. Tak pernah bosan aku berbicara atau menghabiskan waktu bersamanya. Kami memiliki banyak kesamaan. Dia suka buku dan membacanya, begitu juga aku. Aku suka sekali traveling, begitu juga dengan dia. Tanpa terasa, kenyamanan ini telah membuatku lupa bahwa kami telah pacaran selama 5 tahun lebih. Akhirnya, Iman memutuskan untuk melamarku. Meski banyak kesamaan pandangan tentang hidup ini, namun aku tetap harus mempertimbangkan masak-masak apakah dia cukup tangguh untuk menjadi pemimpin dalam keluarga? 
Doa yang kupanjatkan dengan khusyuk kepada Tuhan, memberiku kekuatan dan keyakinan bahwa dia memang jodohku. Tak akan kupungkiri lagi petunjuk dari Sang Khalik. Aku siap menjadi pendamping hidupnya. Aku menerima dia dan keluarga besarnya apa adanya. Hanya satu yang penting bagiku saat menerima pinangan itu. Motivasi dan semangatnya untuk menjadi orang yang tangguh dan kuat dalam menjaga serta melindungiku dan anak-anakku kelak, sudah cukup untuk meyakinkan diriku akan niatnya bersatu dalam ikatan perkawinan denganku. Komitmen dan sumpah tulus yang dia ucapkan ketika itu hingga sekarang tetap terjaga dan membuatku selalu mengangumi dirinya. Getaran saat kami saling menatap, tak pernah pudar hingga kini. Aku yakin dengan pilihan Tuhan untukku dan kami yakin akan selalu terus saling menghormati dan menyayangi hingga maut memisahkan kelak. Seperti kata White Lion dalam lagunya, Till Death Do Us Part. Amin Ya Robbal Alaminn. I love you so much !
With Love,
Untuk Suamiku tercinta

2 Comments

  1. Nia Haryanto says:

    Wow… perjalanan cinta yang luar biasa! Semoga selalu bersama selamanya… dan tidak ternodai apapun… 🙂

  2. astrinovia says:

    aduhhhh ,,, baru baca gue nihhh ,,, tengkyu ceu niaaa ,,, qiqiiqiq

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *