Kesalahan Tak Terlupakan

Dia Yang Tak Boleh Disebutkan Namanya – 1
September 23, 2010
A Letter To My Son
September 23, 2010

Kesalahan Tak Terlupakan

Aku anak yang terlahir dari orangtua sederhana. Ayahku seorang PNS dan ibuku seorang ibu rumah tangga sejati. Mereka berdua pekerja keras yang tak henti-hentinya berusaha menyediakan semua kebutuhan anak-anaknya. Saat itu, aku masih duduk di kelas 5 SD dan memiliki adik 3 orang. Mereka berusia 9 tahun, 2 tahun dan setahun. Selalu terbayang rasanya olehku, malu memiliki banyak adik di usia sebelia itu. Lingkungan yang individualistis dan orangtua yang tegas serta penuh disiplin menyebabkan aku tumbuh menjadi anak yang pendiam dan pemalu. 
Ketika itu ada teman yang menggodaku dengan berkata, “ Eh, kamu mau kemana kemarin malam? Sekeluarga atau se-RT perginya? Kok, rame banget!” Entah dia menyindirku atau menggodaku saja, aku tak tahu. Yang pasti aku sangat malu dengan perkataannya itu. Mungkin tidak akan menjadi masalah jika dia menyapaku dengan kalimatnya itu tanpa banyak teman lain di sekelilingku.
Aku jarang menuruti perintah Ibu untuk mengajak seorang adikku ikut bermain bersama karena alasan yang tak umum. Malu, harus bermain bersama teman-teman dengan membawa adik kecil berusia 2 tahun. Ibu, seorang wanita perkasa yang tak kenal lelah. Beliau bekerja membuat menu pesanan kantin di kantor bapakku. Belum lagi membuat kue-kue pesanan para tetangga. Oleh karena itu, beliau memintaku untuk membantunya sekali-kali. Seharian, ibuku selalu sibuk di dapur, tapi tak pernah melepaskan perhatiannya pada semua buah hatinya. Aku, saat itu masih kecil dengan pola pikir kanak-kanak yang enteng. Egois, tak jarang membangkang dari perintah ibuku. Belakangan sikap ini kusesali setengah mati.
Siang itu temanku menghampiri ke rumah sambil membawa sepedanya. Kami memang sudah berjanji untuk bermain di rumahnya. Kami akan menaiki pohon dan menikmati manisnya buah jambu batu di pekarangan rumah Nia, temanku. Aku sudah siap untuk pergi saat ibu memanggilku. Beliau memintaku untuk membawa adikku, Aleen, karena ibu sibuk dengan pekerjaannya. Sambil menggerutu dan bersungut-sungut akhirnya kunaikkan adikku ke atas boncengan sepeda yang khusus dibuatkan bapakku. Dia akan aman duduk di belakangku. Dalam perjalanan aku mengungkapkan kekesalanku pada Nia. Dia sahabat baik dan mengerti aku, makanya dia hanya mengangguk dan mengatakan agar aku bersabar dan jangan melanggar perintah ibu karena akibatnya akan fatal. Tapi rasa kesal itu masih terus menyelimuti hatiku. Entah kenapa, ketika itu, aku paling tak suka membawa adikku ikut bermain bersama. Aku malu, harus mengasuh adik kecil sedangkan aku sendiri masih belum dewasa. Sampai sekarang aku masih heran kenapa bisa berpikir seperti itu.
Kami tiba di pekarangan rumah Nia. Disana telah menunggu beberapa teman yang lain. Kami akan bermain koki cilik dan lomba panjat pohon layaknya Tarzan. Pekarangan rumah Nia sangat luas dan penuh pepohonan serta bunga-bunga. Di salah satu sudut ada sebuah sumur yang tidak bertembok dan hanya ditutupi oleh selembar seng. Aku hapal tempat itu, makanya aku tak pernah bermain hingga ke sudut itu. Saat bermain dengan teman rasanya aku melupakan adikku, Aleen. Untungnya adikku ini termasuk adik yang tenang dan nyaman bermain sendiri. Kulihat dia sedang asyik memetik bunga dan bermain batu-batu kecil di sudut kebun di dekat teras.
Nia mengajakku untuk menghampiri dirinya yang sedang berada di satu pohon Jambu. Dia sedang memetik buahnya dan bersiap melemparkan buah-buah itu padaku. Aku segera berjalan mendekati pohon jambu itu dan melebarkan rokku untuk menyangga jambu yang jatuh. Sedang asyik-asyiknya aku tertawa-tawa riang bersama Nia, salah seorang temanku yang lain berteriak keras. “Astriiiiiiiiiiiiii,,,,adikmu hilangggg!” Aku terpana, terkejut, terkesiap oleh teriakan temanku. Seketika aku teringat adikku. 
Ya Allah, aku lupa, maafkan hamba. Jantungku berdegup kencang saat teringat sumur di sudut kebun ini. Ternyata benar, lembar seng itu telah bergeser dan samar-samar kudengar tangis anak kecil dari kedalaman bumi. Secepat kilat aku berlari menghampir sisi sumur itu, kupanggil nama adikku. Lututku bergetar kencang dan aku roboh di tanah. Meledak tangisku mendengar adik kecilku memanggil namaku dari dalam sumur itu. Seketika semua tetangga berdatangan dan berusaha mengeluarkannya dari dalam sumur. Aku tak bisa berbuat apapun, hanya doa tulus dan penyesalan yang kuucapkan ketika itu pada Allah. Aku meminta maaf dan ampun atas dosaku. Kudengar seorang tetangga berkata, “ Untung saja sumur ini tak berair. Hanya sekop, palu dan kampak saja yang ada di dasar sumur.” Ya Allah, apalah artinya tak ada air namun tersisa peralatan tukang yang begitu tajam di dalamnya. Ya Allah, hamba memohon selamatkanlah adik hamba. Ampuni kesalahan hamba, jangan kau ambil nyawa adik hamba, hamba tak kuasa menghadapinya Ya Allah-ku Yang Maha Besar, kabulkanlah doa hamba. Saat ibuku datang, beliau memandang diriku. Aku tahu beliau tak menampakkan kemarahanannya padaku. Namun aku tahu, hatinya hancur mengetahui kelakuanku ini. 
Akhirnya adik kecilku dapat diangkat keluar dari sumur sedalam 15 meter itu. Kepalanya penuh tanah basah, sandal yang dia pakai tinggal sebelah, bajunya kotor semua dan dia tampak lemas dengan dahi yang tampak ungu lebam. Ibu membawa adik ke rumah sakit untuk diperiksa. Saat itu, bapak juga menyusul ibu ke rumah sakit. Aku diantarkan pulang ke rumah oleh seorang satpam. Badanku lemas, hatiku hancur, aku hanya ingin bersimpuh dan berdoa dengan tulus ikhlas semoga Allah mendengar doaku. Aku berdoa semoga adikku tak mengalami kerusakan fisik yang fatal. Semoga adikku bias sehat seperti sedia kala. Hingga orangtuaku kembali ke rumah aku tak berhenti berdoa
Malam itu, mereka pulang dan tampak lelah. Jantungku kembali berdegup kencang. Kutanyakan bagaimana keadaan adikku. Rupanya setelah diperiksa adikku sempat tak bisa berdiri. Aku seakan tertimpa gunung batu raksasa mendengarnya. Kami masih harus menunggu pemeriksaan lebih lanjut tentang keadaan fisik adikku. Malam itu hingga subuh tiba, tak beranjak aku dari hadapanNya. Terus mengenakan mukena putih seraya berdoa demi kesembuhan adikku dan memohon ampunan atas semua dosa-dosaku. Pagi menjelang, kutemukan orangtuaku dan Aleen sudah berangkat ke rumah sakit. Setelah pemeriksaan yang lebih detil dokter memberikan diagnosa ajaib. 
Adikku tak mendapatkan luka berarti dan bisa berjalan normal setelah melakukan terapi beberapa kali. Kuanggap ajaib karena sumur itu dalamnya 15 meter dengan beragam peralatan tajam di dalamnya. Alhamdulillah Ya Allah, Engkau telah mengabulkan doaku, doa dari seorang anak yang egois dan durhaka. Beribu-ribu syukur aku panjatkan kepadaMu yang telah memberiku kesempatan menjadi kakak yang lebih baik bagi adik-adikku terutama untuk Aleen. Betapa Allah selalu mendengar doa mereka yang bertaubat dan memohon ampunan dengan ikhlas. “Tiada Tuhan kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya kami termasuk orang-orang yang menganiaya.” (Al Anbiya 87)

1 Comment

  1. Ibnu says:

    Ow,betapa aku tersentuh membaca cerita ini… tenang teh,adikmu baik2 saja hingga saat ini,dan sudah berkeluarga dengan bahagia ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *