Dia Yang Tak Boleh Disebutkan Namanya – 1

Dia Yang Tak Boleh Disebut Namanya
September 23, 2010
Kesalahan Tak Terlupakan
September 23, 2010

Dia Yang Tak Boleh Disebutkan Namanya – 1

Hari itu kita berencana untuk ramai-ramai menghabiskan akhir pekan disebuah pondok kecil milik seorang teman di tengah hutan. Marry bilang pemandangan di sekitar rumah itu sungguh menakjubkan. Pepohonan rindang dan lebat serta berbagai jenis tanaman mulai dari yang tumbuh di akar hingga merambat saling berlomba untuk minta terlihat oleh matahari, semua lengkap. Udaranya cukup untuk membuat badan menggigil. Terkadang kabut menyeruak dari malam hingga pagi hingga mata ini tak mampu menembus kepekatannya. Kau begitu antusias dengan rencana ini. Aku tahu kita jarang bercakap-cakap langsung.Namun, tatapan matamu lebih memberi banyak arti bagiku. Sorot mata itu selalu ceria dengan kerlingannya yang nakal dan membuatku gemas. Ah, boleh tidak kalau aku menyentuh kulitmu? Sebentar saja cukup. Tapi, keberanian itu serasa menjauh dariku. Hmm, diam saja kalau begitu.
 
Marry menyuruhmu untuk menjemputku selepas jam kerja nanti sore. Belum habis tengah hari aku sudah gembira bukan kepalang. Perasaan ini bukan karena aku akan berakhir pekan di sebuah tempat yang cukup terpencil, melainkan karena akan berada satu mobil denganmu. Hanya berdua saja hingga tempat tujuan.Teman yang lain sudah lebih dulu berangkat. Jadi Marry menugaskanmu untuk menjemputku. Oalah, mimpi apa aku semalam?
 
Bel pintu berbunyi dan suara di speaker mengatakan kalau kau sudah ada didepan pagar menungguku. Aku mengerti maksudmu. Semua perlengkapan sudah siap.Cek satu siap cek dua siap. Kuturuni tangga sambil melompat-lompat bak bocah keriangan akan mendapat hadiah. Kulihat Angie sedang menghadap tungku dan memasak sesuatu untuk makan malam nanti.
“Aku pergi dulu ya!” teriakku.
Dia menoleh dan berkata, ” Okay, dengan siapa kau pergi?”
Kukedipkan mataku sambil tersenyum, ” Kau tahu dengan siapa, kan?”
Jawabnya lagi, ” owh, okay. Hati-hati ya, have fun!”
 
Kuloncati pagar yang hanya setinggi pinggul saking girangnya. Kulihat kau sedang asyik memilah-milah lagu di tape yang terpasang dalam mobil. Untung saja, karena sebenarnya aku malu terlihat girang olehmu. Duduk di sampingmu sambil memasang seatbelt dengan erat, tak lupa kulirikkan mata ke arahmu hanya untuk sekedar melihat siluet wajahmu dari samping. Seperti biasa wangi ini,aroma tubuhmu selalu membuatku terpesona dan ingin menyentuhmu. Tapi harus kutahan rasa ini.
 
Perjalanan menuju pondok mungil di tengah hutan tidak memerlukan banyak kata antara kita. Cukup dengan senyuman, lagu dan isyarat tangan saja kita sudah saling mengerti. Bukan apa-apa, aku hanya tak bisa bercakap dalam bahasamu dan begitu juga denganmu. Kau tampak gembira, terlihat dari tak henti-hentinya kau bernyanyi di sepanjang perjalanan. Sedangkan aku menghabiskan waktu dengan membaca komik dan sesering mungkin melirikkan mata ke arahmu.Betapa indah makhluk cipataan Tuhan yang satu ini. Mungkinkah kau akan selalu ada di dekatku? Apakah aku sedang bermimpi. Rasanya sulit untuk membedakan dimana aku berada saat ini. Bila ini mimpi ku tak ingin terbangun dan bila ini adalah kenyataan, kutak ingin waktu bergulir.
 
Udara di luar cukup dingin sehingga membuat kaca mobil pekat oleh kabut. Sepertinya malam ini akan panjang dan menyenangkan. Teman-teman sudah menyiapkan segalanya dan berharap seseorang akan memenangi kejuaraan begadang hari ini. Tidak tertidur hingga pagi menjelang. Atap pondok sudah terlihat dan tampak Marry sedang mengangkut kayu bakar untuk disimpan dalam perapian. Kami akan membuat barbekyu malam ini. Menggunakan batu pipih yang khusus berasal dari Andorra. Marry berkata apapun yang dibakar diatas batu ini rasanya akan lebih lezat dibandingkan dengan menggunakan alat pembakaran lain.
 
Kuambil ransel dari jok belakang sambil melemparkan senyum padamu. Kau berjalan di depan dan membuatku tak dapat mengalihkan pandangan dari keindahan yang sedang Tuhan tunjukkan saat ini. Tubuh yang atletis namun tak seperti peragawan dengan ototnya yang berlebihan. Dengan gaya kasual dan trendy kau siap menyapa teman-teman yang sedang sibuk di halaman. Jantungku tak berhenti berdetak keras melihatmu. Tolong, jangan bangunkan aku dari mimpi ini. Terlalu indah untuk pudar dalam sekejap. Apa yang sedang kurasakan ini? Aku tak mengerti. Aku tak ingin mereka tahu yang sedang bergemuruh di dadaku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *