Dia Yang Tak Boleh Disebut Namanya

Seperti Kata White Lion, Till Death Do Us Part
September 23, 2010
Dia Yang Tak Boleh Disebutkan Namanya – 1
September 23, 2010

Dia Yang Tak Boleh Disebut Namanya

Prolog
 
Rasa itu datang lagi. Kulangkahkan kaki menuju jembatan yang membentang seakan tak putus di ufuk sana. Tak terdengar suara apapun bahkan dari jangkrik sekalipun. Sepi, sesunyi hati yang gelisah. Gelap, sinar temaram hanya kudapat dari kunang-kunang yang berkumpul di sudut jalan. Ingin kumelangkah jauh, meninggalkan semua yang berkecamuk tanpa harus melihat lagi. Berat, rasanya kaki ini sulit untuk menapak satu persatu ayunan langkah. Masihkah ada secercah sinar di depan sana. Hanya untukku? Raihlah tanganku. Kutahu kau ada meski tak terlihat. Genggam erat dan dampingi aku.
 
Cakrawala begitu temaram. Indah namun menyimpan misteri. Seperti kisah hidupku yang berbelit. Still can’t find my way. Akankah ada sesuatu disana bila kuraih sinar itu. Seperti anak kecil menangis di pinggir jalanan yang bergejolak tanpa ibu mereka. Menangis,tersedu, tanpa ada yang menatap. Biarkan kutahu tak hanya kemudahan disini. Rasa sakit selalu menjadi pendamping setia kebahagiaan. Bagai dua mata pisau yang selalu bersisian. Hari-hari terasa sepi tanpa kau di sisiku. Tak tahu harus kemana tanpamu di samping ku…. Please, bantu aku melewati hariku dan membuatnya lebih baik…I miss you, really!
 
Entah kapan bisa kutatap lagi mata yang teduh dengan aroma tubuhmu yang membius hatiku. Bibir yang selalu tersenyum, penuh canda dan dikelilingi banyak orang. Bagai sebutir gula putih. Selalu dikerubuti semut dimanapun berada. Ku hanya bisa tersenyum melihatmu.Menatap tanpa kedip karena tak ingin kehilangan sedetikpun moment keberadaanmu. Berada di dekatmu sudah membuatku bahagia. Dan saat kau bicara, menatap mataku dan membetulkan jepit rambutku, seakan surga adalah saat itu. Indah dan tak mungkin lagi terulang. Kenapa harus aku disini sedangkan kau terpisah begitu jauh. Membayangkan dirimu sama dengan menyakiti hatiku sendiri. Namun kalimat itu terus terngiang ditelingaku. Masihkah cercah sinar di depan sana untukku?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *